Makanan Sehat - Chickpeas

Meski chickpeas, yang juga dikenal sebagai garbanzo beans, berasal dari Timur Tengah sekitar 7.000 tahun yang lalu, tapi mereka sebenarnya tidak ditanam di lembah Mediterranean sampai sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.

Dari lembah Mediterranean, chickpeas menyebar ke India dan Ethiopia. Chickpeas menjadi populer selama masa Mesir, Yunani dan Romawi kuno.

Selama abad ke 16 Masehi, para pengelana dari Spanyol dan Portugis memperkenalkan chickpeas pada subtropis, dan orang-orang dari India membawanya bersama mereka saat berdagang dari satu negeri ke negeri lain.

Saat ini, penghasil chickpeas komersial yang utama adalah India, Pakistan, Turki, Ethiopia dan Mexico.

Chickpeas banyak mengandung molybdenum dan manganese. Juga sangat banyak mengandung folate dan serat, tryptophan, protein, copper, phosphorus, dan zat besi.

Tapi apa yang telah dipelajari oleh para peneliti?

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi acak yang dipublikasikan tahun 2006 di Annals of Nutrition & Metabolism, para peneliti Australia menambahkan diet dari 47 pria dan wanita entah dengan chickpeas atau gandum. Setelah minimal lima minggu, para subjek ditempatkan pada sebuah penambahan alternatif.

Pola makan yang menyertakan chickpeas punya protein dan lemak yang lebih sedikit serta karbohidrat yang lebih banyak dibanding pola makan yang menyertakan gandum.

Saat dibandingkan dengan para subjek yang mendapat tambahan gandum, para subjek yang mendapat tambahan chickpeas mengalami pengurangan yang signifikan dalam level kolesterol -- sebuah penurunan 3,9 dalam kolesterol total dan 4,6 persen dalam LDL.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘penambahan chickpeas ke dalam sebuah diet campur tangan menghasilkan level total serum kolesterol dan low-density lipoprotein cholesterol yang lebih rendah saat dibandingkan dengan diet yang ditambah dengan gandum.’’

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2003 di Archives of Internal Medicine mengikuti hampir 10.000 subjek selama rata-rata 19 tahun. Saat studi di mulai, tidak satupun subjek yang memiliki bukti dari penyakit jantung.

Selama tahun-tahun studi, terdapat 1.843 kasus dari munculnya penyakit jantung koroner dan 3.762 kasus dari munculnya penyakit saluran cardiovascular.

Saat dibandingkan dengan subjek yang makan serat paling sedikit, subjek yang paling banyak makan serat, misalnya serat soluble dan insoluble yang ada di dalam chickpeas, punya 12 persen lebih sedikit penyakit jantung koroner dan 11 persen lebih sedikit penyakit cardiovascular.

Para subjek yang memakan serat water-soluble paling banyak mengalami penurunan  dalam resiko untuk penyakit jantung, yaitu 15 persen, dan 10 persen pengurangan dalam resiko untuk penyakit cardiovascular.

Agar bisa menentukan hubungan antara asupan folate dengan resiko untuk hypertensi (tekanan darah tinggi), sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2005 di JAMA, The Journal of the American Medical Association, mengatati penemuan dari dua studi kelompok prospektif (seperti yang sudah dikatakan, chickpeas banyak mengandung folate).

Dua kelompok menyertakan 156.063 wanita yang berusia antara 27 sampai 70 tahun. Salah satu kelompok -- disebut sebagai ‘‘wanita yang lebih muda’’-- menyertakan wanita yang berusia antara 27 sampai 44 tahun; kelompok lain -- disebut sebagai ‘‘wanita yang lebih tua’’ -- menyertakan wanita yang berusia antara 43 sampai 70 tahun.

Secara umum, tidak satupun subjek yang memiliki sejarah hypertensi. Selama delapan tahun masa follow-up, terdapat 7.373 kasus hypertensi diantara kelompok wanita muda, dan 12.347 kasus hypertensi diantara kelompok wanita yang lebih tua.

Para peneliti menemukan bahwa, ‘‘asupan total folate yang lebih tinggi itu berhubungan dengan suatu pengurangan resiko dari timbulnya hypertensi, terutama pada wanita yang lebih muda.’’

Studi lain mengenai hubungan antara asupan folate dengan pengurangan dalam tekanan darah dilakukan para peneliti Itali dan dipublikasikan tahun 2009 di European Journal of Clinical Nutrition.

Dalam percobaan ini, 15 wanita postmenopausal diberi 5-methyltetrahydrofolate (5-MTHF), yaitu sebuah bentuk sirkulasi predominan dari folate, sebanyak 15 milligrams per hari. Kelompok kedua terdiri dari 15 wanita postmenopausal bertindak sebagai kelompok placebo; mereka tidak mendapat 5-MTHF.

Pada akhir minggu ketiga, para peneliti mengamati bahwa wanita yang mendapat folate rata-rata memiliki pengurangan mercury sebanyak 4,5 millimeters (mmHg) dalam tekanan darah systolic. Sedangkan pembacaan tekanan darah dari wanita yang berada dalam kelompok placebo tidak berubah.

Wanita yang berada dalam kelompok folate juga mengamali penurunan dalam level homocysteine sebanyak 11,8 micromoles per liter; ini sangat kontras dibanding wanita yang dalam kelompok placebo yang cuma mengalami penurunan sebanyak 8,7 micromoles per liter.

Berbagai studi telah menunjukkan sebuah hubungan antara peningkatan level dari amino acid homocysteine dan peningkatan resiko dari penyakit cardiovascular. Para peneliti menyimpulkan bahwa jumlah yang lebih tinggi dari folate itu mungkin bermanfaat untuk mempertahankan kesehatan cardiovascular dari wanita postmenopausal.

Dalam sebuah artikel tahun 2009 di Chemistry and Industry melaporkan penelitian yang dilakukan mengenai chickpeas, beans, peas, dan lentils di University of Manitoba, Canada. Kelompok yang terdiri dari 25 subjek yang memiliki penyakit peripheral artery, yaitu suatu penumpukan jaringan lemak di arteri dibagian kaki.

Setelah menyertakan setengah mangkuk chickpeas, beans, peas, dan lentils ke dalam diet harian mereka selama enam minggu, para subjek mengalami perbaikan yang ‘‘luar biasa’’ dalam aliran darah di kaki.

Selain itu, para peneliti mengamati suatu peningkatan 10 persen dalam fleksibilitas dari saluran darah dan 5 persen pengurangan dalam level kolesterol LDL.

Dalam sebuah studi double-blind placebo-controlled tahun 2008 di European Heart Journal, para peneliti Hong Kong mencoba untuk mengetahui apakah isoflavone, sebuah senyawa yang ditemukan dalam chickpeas, bisa meningkatkan fungsi arteri pada orang-orang yang menderita ischemic stroke, yaitu stroke yang disebabkan oleh gumpalan darah atau jenis-jenis gangguan lainnya.

50 pasien mendapat supplemen isoflavone; 52 mendapat placebo. Pada akhir minggu ke 12, saat dibandingkan dengan orang-orang yang mendapat placebo, para subjek yang mendapat supplemen isoflavone mengalami peningkatan dalam fungsi arteri.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘penemuan ini mungkin memiliki dampak penting untuk penggunaan isoflavone dalam pencegahan kedua pada pasien yang menderita penyakit cardiovascular, setelah campur tangan secara konvensional.’’

Kanker Colorectal

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2009 di European Journal of Clinical Nutrition, para peneliti Korea membandingkan data dari 596 pria dan wanita yang menderita kanker colorectal dengan data dari 509 orang yang tidak memiliki penyakit ini.

Para peneliti menemukan bahwa para subjek yang paling banyak mengkonsumsi folate, mengalami 53, 58, dan 52 persen penurunan dalam resiko dari kanker colorectal, kanker usus dan kanker rectal, secara berturut-turut.

Saat para peneliti memfokuskan pada gender dari para peserta, mereka menemukan bahwa sebenarnya hanya wanita yang mendapat manfaat dari asupan folate.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘ada sebuah hubungan yang signifikan secara statistik antara jumlah asupan folate dengan pengurangan resiko dari kanker colorectal, kanker usus dan kanker rectal pada wanita. Sebuah hubungan yang signifikan teridentifikasi antara total asupan tertinggi dari folate dengan pengurangan resiko dari kanker rectal pada wanita.’’

Asthma

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2009 di The Journal of Allergy and Clinical Immunology, para peneliti dari Baltimore, Maryland, menyelidiki hubungan antara level dari serum folate dengan tingkat kelaziman dari gajala-gejala allergi dan asthma.

Setelah meninjau ulang catatan medis dari 8.000 orang yang berusia antara 2 sampai 85 tahun, para peneliti menemukan bahwa para subjek yang memiliki jumlah folate tertinggi di dalam darah mereka, punya allergi dan sesak napas yang lebih sedikit, dan tingkat asthma yang lebih rendah.

Selain itu, orang-orang yang memiliki folate tertinggi punya level yang lebih rendah dalam immunoglobulin E (IgE), yaitu antibody utama yang berhubungan dengan reaksi allergi.

Begitu juga saat dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki rating folate tertinggi, orang-orang yang punya level folate terendah punya 40 persen resiko lebih tinggi untuk mengalami sesak napas dan 30 persen lebih tinggi untuk peningkatan level IgE.

Mereka yang punya level terendah juga punya 31 persen peningkatan dalam resiko dari gejala-gejala allergi dan 16 persen lebih tinggi dalam resiko dari memiliki asthma.

Nah, apakah chickpeas adalah sebuah penambahan yang bermanfaaat bagi diet? Tampaknya memang begitu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Ceri

Dari sejak pertama kali anak-anak mempelajari tentang sejarah pendirian Amerika Serikat, mereka sudah mendengar tentang buah ceri.

Dan bukankah George Washington dikenal karena pernah menebang pohon ceri ayahnya?

Cerita itu begitu sering diceritakan, karena si anak kecil ini, yang tumbuh besar menjadi seorang presiden Amerika Serikat yang pertama, tidak mencoba untuk menutupinya dari kebenaran. Secara jujur, dia menceritakan pada ayahnya tentang apa yang telah dia lakukan.

Meski kisah George Washington dan pohon ceri mungkin benar atau mungkin juga tidak, tapi saat ini ceri juga dipercaya menjadi salah satu buah yang luar biasa sehat. Sebagian orang berpendapat bahwa ceri seharusnya dipertimbangkan untuk menjadi salah satu jenis dari ‘‘makanan super.’’

Buah ceri disebut-sebut sebagai buah yang bermanfaat untuk peradangan, nyeri, pencegahan kanker, dan pengaturan pola tidur; buah ceri juga mungkin memiliki kemampuan anti-aging.

Tapi, apakah hasil penelitian mendukung klaim-klaim ini?

Mengurangi Peradangan dan Nyeri

Dalam sebuah studi yang dilakukan di Johns Hopkins Hospital, Baltimore, dan dipublikasikan tahun 2004 di Behavioural Brain Research, para peneliti menguji manfaat dari anthocyanins (antioxidant flavonoids) yang diekstrak dari tart ceri pada tikus yang dipicu untuk mengalami nyeri yang disebabkan peradangan.

Mereka juga mengamati bagaimana efek dari anthocyanins jika dibandingkan dengan manfaat yang di dapat dari menggunakan indomethacin, yaitu obat anti peradangan non-steroid, dan bagaimana konsumsi dari anthocyanins mempengaruhi koordinasi gerak.

Para peneliti menemukan bahwa dosis tertinggi dari anthocyanins (400 mg/kg) mendapatkan hasil yang sebanding dengan indomethacin (5 mg/kg). Dan, bahkan pada dosis tertinggi, anthocyanins tidak mengganggu koordinasi gerak.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, ‘‘tart ceri anthocyanins mungkin memiliki suatu peran yang bermanfaat dalam perawatan dari nyeri akibat peradangan.’’

Sementara itu, para peneliti di University of Vermont menemukan suatu hubungan antara konsumsi dari jus tart ceri campuran dengan pencegahan dari kerusakan otot.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di British Journal of Sports Medicine, 14 mahasiswa meminum 12 ons jus ceri campuran atau placebo dua kali sehari selama depalan hari berturut-turut.

Untuk menciptakan kerusakan otot, pada hari ke empat, para siswa menyelesaikan dua set dari 20 kali ulangan bicep curl. Sebelum dan empat hari setelah berolahraga, para peneliti mengukur kekuatan lengan dan nyeri otot.

Saat studi diulanggi dua minggu kemudian, para subjek yang awalnya meminum jus diganti untuk meminum placebo, dan yang awalnya meminum placebo diganti dengan jus. Olahraga diulangi pada lengan sebelahnya.

Para peneliti menemukan bahwa, ‘‘kehilangan kekuatan dan rasa nyeri secara signifikan lebih sedikit pada versi percobaan jus ceri dibanding placebo . . . . Kehilangan kekuatan rata-rata selama empat hari setelah olahraga eksentrik (olahraga yang mengejangkan otot secara paksa untuk waktu yang lama) adalah 22 persen dengan placebo, tapi hanya 4 persen dengan jus ceri.’’

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2003 di The Journal of Nutrition, menyelidiki hubungan antara konsumsi dari Bing sweet cherries dengan jumlah dari uric acid (urate) di dalam darah. (Level uric acid yang lebih tinggi di dalam darah itu berhubungan langsung dengan encok).

Setelah berpuasa selama satu malam, 10 wanita sehat yang berusia 22 sampai 40 tahun mengkonsumsi dua sajian dari Bing sweet cherries (280 g). Sampel darah dan urine diambil sebelum memakan ceri dan 1,5 jam, 3 jam, dan 5 jam setelah memakan ceri.

3 jam setelah memakan ceri, terdapat penurunan yang signifikan dalam level uric acid. Meski tidak signifikan, terdapat juga penurunan dalam level peradangan.

Kanker

Dalam sebuah studi Michigan State University yang dipublikasikan tahun 2003 di Cancer Letters, para peneliti memberikan makan suatu diet yang mengandung tart ceri, anthocyanins, atau cyanidin (sebuah hasil penguraian dari anthocyanins) pada tikus yang di posisikan beresiko tinggi untuk mengalami kanker usus.

Kelompok kedua dari tikus yang mirip digunakan sebagai kelompok kontrol.

Para peneliti menemukan bahwa tikus yang mengkonsumsi tart ceri, anthocyanins (yang ditemukan dalam tart ceri), atau cyanidin, mengembangkan kanker usus yang lebih sedikit dan lebih kecil. ‘‘Hasil-hasil ini menyiratkan bahwa tart ceri anthocyanins dan cyanidin mungkin mengurangi resiko dari kanker usus.’’

Sebuah studi Swedia, yang dipublikasikan tahun 2004 di Journal of Agricultural and Food Chemistry, menyelidiki efek-efek dari 10 ekstrak buah dan berrie yang berbeda, termasuk buah ceri, terhadap cell-cell kanker payudara dan kanker usus.

Ekstrak ini ternyata bisa mengurangi perkembang biakan dari kedua jenis cell-cell kanker, ‘‘dan efeknya tergantung dari tingkat konsentrasi (jumlah dosis).’’

Kesehatan Jantung, Metabolic Syndrome dan Diabetes Type 2

Selama Experimental Biology Annual Meeting tahun 2007, para peneliti dari University of Michigan Cardiovascular Center dan the University of Michigan Cardioprotection Research Laboratory mencatat bahwa asupan ceri mungkin mengurangi resiko dari penyakit jantung, metabolic syndrome, dan diabetes type 2.

Dalam penelitian, sekelompok tikus diberi makan sebuah diet yang terdiri dari satu persen whole tart cherry powder; kelompok tikus lain diberi makan sebuah diet yang 10 persennya terdiri dari whole tart cherry powder.

Satu kelompok tikus kontrol diberi makan suatu diet tanpa cherry powder, tapi dengan jumlah karbohidrat dan protein yang sama.

Setelah 90 hari, tikus-tikus yang diberi makan cherry powder punya level kolesterol total, triglycerides, insulin, dan fasting glucose yang lebih rendah. ‘‘Semua hasil pengukuran ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan metabolic syndrome.’’

Menurut ketua peneliti dari studi ini, Steven F. Bolling, MD, seorang ahli bedah jantung, ‘‘Metabolic syndrome itu adalah sekelompok ciri-ciri yang bisa sangat meningkatkan resiko anda untuk terkena penyakit jantung, stroke, dan diabetes type 2 . . . . Perubahan gaya hidup telah terbukti bisa menurunkan kemungkinan dari berkembangnya metabolic syndrome, dan ada ketertarikan yang luar biasa dalam mempelajari dampak dari makanan tertentu yang kaya akan antioxidant, misalnya ceri.’’

Pengaturan Pola Tidur dan Anti-Aging

Para peneliti mempelajari lebih lanjut mengenai bagaimana tubuh mengambil manfaat dari suatu peningkatan dalam jumlah asupan melatonin, suatu antioxidant ampuh yang dibuat di dalam kelenjar pineal di dalam tubuh.

Meski tubuh memproduksi melatonin secara natural, tapi jumlahnya mungkin tidak mencukupi kebutuhan. Selain itu, saat tubuh menua, produksinya makin berkurang. Melatonin itu dikenal memegang suatu peranan integral dalam membantu mengatur biorhythm dan pola tidur.

Tart ceri adalah salah satu dari makanan yang banyak mengandung melatonin. Dan para peneliti melatonin, misalnya Russel J. Reiter, PhD, dari University of Texas Health and Science Center, percaya bahwa tart ceri mungkin bermanfaat untuk mereka yang mengalami gangguan tidur dan mereka yang berhadapan dengan jet lag.

Bahkan, Dr. Reiter menganjurkan para penumpang pesawat untuk memakan ceri kering satu jam sebelum tidur. ‘‘Setelah tiba, makanlah ceri satu jam sebelum ingin tidur, setidaknya selama tiga malam berturut-turut.’’

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di Basic & Clinical Pharmacology & Toxicology, Dr. Reiter dan para peneliti lain menyelidiki apa yang akan terjadi jika mereka memberikan melatonin selama tujuh hari pada suatu hewan diurnal (hewan yang aktif disiang hari dan tidur di malam hari).

Mereka memilih ringdoves, sejenis merpati yang memiliki bercak putih pada leher dan ujung sayap. Para peneliti mempelajari ringdoves muda yang berusia antara dua sampai tiga tahun, dan ringdoves tua yang berusia antara 10 sampai 12 tahun.

Tiga dosis melatonin yang berbeda diberikan: 0.25, 2.5, dan 5 mg/kg berat tubuh. ‘‘Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian melatonin dosis manapun, mampu mengurangi aktivitas diurnal dan nocturnal ringdove tua, pengurangan sebagian besar terjadi pada malam hari. Hewan-hewan yang muda juga mengalami penurunan aktivitas nocturnal dengan ketiga jenis konsentrasi melatonin, dimana aktivitas diurnal mereka hanya menurun dengan dosis 2.5- dan 5-mg/kg berat tubuh.’’

Para peneliti menyimpulkan bahwa, ‘‘perawatan dengan melatonin mungkin tepat untuk meningkatkan test nocturnal, dan bermanfaat sebagai terapi untuk gangguan tidur.’’

Dan, sebuah studi pada tikus yang dipublikasikan tahun 2007 di Free Radical Research, yang menyertakan Dr. Reiter dan rekan-rekannya dari Texas di University of Granada, Spanyol, menyimpulkan bahwa melatonin membantu menetralisir oksidasi dan peradangan yang berhubungan dengan penuaan.

Para peneliti bahkan merekomendasikan bahwa pada usia sekitar 30 atau 40 tahun, orang sebaiknya mulai mengkonsumsi melatonin.

Nah, haruskah ceri menjadi bagian dari diet? Pasti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Seledri

Awalnya hanya tersedia di alam liar, seledri dianggap berasal dari wilayah Mediterranean dari Afrika Utara dan Eropa Selatan.

Tapi, ada juga yang percaya bahwa seledri berasal dari wilayah-wilayah di sepanjang daerah timur sampai ke Himalaya.

Saat awal, seledri hanya dianggap sebagai obat. Kemampuan pengobatan ini tercatat dalam Odyssey, yang telah ditulis oleh seorang penyair Yunani yaitu Homer diabad ke 9 Sebelum Masehi.

Di masa Yunani kuno, daun seledri menghiasi dan memeriahkan pertandingan atletik, dan dimasa Romawi kuno, seledri digunakan sebagai bumbu.

Pada abad pertengahan, seledri telah menjadi suatu makanan yang dimasak. Itu tidak pernah dilakukan sebelumnya sampai pada abad ke 18 Masehi seledri masih dikonsumsi sebagai makanan mentah di Eropa. Pada abad ke 19 Masehi, seledri akhirnya menemukan jalannya ke Amerika.

Seledri banyak mengandung vitamin K dan C, potassium, folate, serat, molybdenum, manganese, dan vitamin B6. Selain itu, seledri juga banyak mengandung kalsium, vitamin A, B1 dan B2, magnesium, tryptophan, phosphorus, dan zat besi.

Tapi apa kata para peneliti?

Kanker

Dalam sebuah studi tahun 2008 yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, dua peneliti dari University of California, Riverside, menemukan bahwa proses pencernaan dari apigenin, yaitu sejenis flavonoid, suatu phytonutrient (zat tanaman) dengan aktivitas antioxidant yang tinggi yang ditemukan dalam seledri, meningkatkan respon dari cell-cell kanker terhadap chemotherapy.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Para peneliti merasa yakin bahwa apigenin mengaktifkan sebuah penekan tumor yang dikenal sebagai p53 dan mengirimkannya ke nucleus dari cell-cell kanker. Terjadi penghentian pertumbuhan cell-cell dan menyebabkan cell-cell menjadi mati.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘apigenin secara khusus mengembalikan lokalisasi reaktor p53 dan ini menyediakan suatu basis molekular dari penggunaan apigenin untuk mentargetkan kanker-kanker yang disebabkan oleh lokalisasi cytoplasm abnormal dari p53 jenis liar.’’

Kanker Ovarian

Dalam sebuah studi berbasis populasi yang dipublikasikan tahun 2009 di International Journal of Cancer, para peneliti Harvard mereview hubungan antara asupan dari apigenin dengan munculnya kanker ovarian.

Studi ini terdiri dari 1.141 wanita yang menderita kanker ovarian dan 1.183 wanita sebagai kontrol. Usia rata-rata dari para peserta dalah 51 tahun.

Saat dibandingkan dengan wanita yang mengkonsumsi apigenin paling sedikit, wanita yang mengkonsumsi paling banyak punya suatu ‘‘pengurangan ambang batas yang signifikan’’ dalam resiko dari kanker ovarian.

Yang menarik, para peneliti menemukan bahwa manfaat seperti itu tidak di dapat dari mengkonsumsi empat jenis flavonoid lainnya, yaitu myricetin, kaempferol, quercetin, dan luteolin.

Selain itu, mereka tidak menemukan adanya hubungan ‘‘antara total asupan flavonoid dengan resiko kanker ovarian.’’

Kanker Prostate

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2005 di The FASEB Journal, para peneliti dari Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, memberi apigenin pada tikus dengan dosis sebanyak 20 dan 50 microgram (mcg) per hari selama enam minggu.

Setelah dua minggu pertama dari pemberian dosis, mereka menanamkan tumor kanker prostat pada tikus. Dalam protokol kedua, tumor ditanamkan dua minggu sebelum pemberian dosis dimulai.

Para peneliti menemukan bahwa dalam kedua versi dari studi ni, apigenin memperlambat pertumbuhan dari cell-cell kanker prostate. Selain itu, apigenin sama sekali tidak tampak memiliki efek samping negatif.

Para peneliti mencatat bahwa penemuan mereka ini ‘‘memberikan kemungkinan bahwa apigenin . . . mungkin bermanfaat dalam perawatan dari kanker prostate.’’

Manfaaat Tambahan Anti-Kanker

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2004 di Carcinogenesis, para peneliti menemukan bahwa saat apigenin dikonsumsi dengan makanan yang mengandung sulforaphane, sebuah senyawa yang ditemukan dalam semua sayuran brassica misalnya brokoli, apigenin menawarkan perlindungan yang jauh lebih besar terhadap cell-cell kanker.

Meski apigenin dan sulforaphane bertindak dengan cara yang berbeda, tapi mereka punya suatu ‘‘efek synergis.’’

Asthma

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti Jepang menambahkan diet dari tikus-tikus dengan apigenin selama dua minggu lalu mengukur level immune dan ciri-ciri peradangan.

Saat dibandingkan dengan tikus-tikus dari kelompok kontrol, para peneliti menemukan bahwa apigenin menekan level level-level dari immunoglobulin E (IgE) sebanyak 50 persen.

IgE itu berhubungan dengan ekspresi dari asthma dan jenis-jenis allergi lain; level IgE yang tinggi meningkatkan resiko dari asthma dan allergi.

Para peneliti mencatat bahwa hasil mereka ini menyiratkan bahwa ‘‘sebuah diet yang mengandung apigenin bisa mengurangi serum IgE.’’

Mencegah Kerusakan Tulang dan Mendukung Penurunan Berat Badan

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2008 di Life Sciences, para peneliti Korea Selatan mencoba untuk mengetahui apakah apigenin melindungi tulang dari tikus-tikus yang kekurangan esterogen dimana ovaries mereka telah diangkat.

Para peneliti menggunakan tikus-tikus Sprague-Dawley berumur tiga bulan yang pura-pura dioperasi (sebuah prosedur operasi placebo) atau yang di ovariectomized dan diberi makan sebuah diet yang mempercepat perusakan tulang selama tujuh minggu.

Kemudian, selama 15 minggu, tikus-tikus diberi makan 10 mg/kg apigenin tiga kali per minggu. Para peneliti menemukan bahwa apigenin meningkatkan kandungan mineral dan kepadatan dari tulang-tulang serta memiliki sebuah efek positif terhadap pergantian tulang.

Selain itu, apigenin mengurangi berat tubuh dan konsumsi makanan. Mereka menyimpulkan bahwa ‘‘data ini menyiratkan bahwa apidenin seharusnya dipertimbangkan untuk digunakan dalam perawatan osteoporosis.’’

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti mengamati efek-efek pembuluh darah dari mengkonsumsi nitrite, yang ditemukan dalam seledri, pada tikus.

Sementara suatu kelompok tikus kontrol diberi makan diet standard, selama tujuh hari para peneliti menambahkan 50 mg/L nitrite pada air minum dari kelompok tikus lainnya.

Semua tikus kemudian di picu untuk mengalami serangan jantung, di follow-up selama 24 jam dari reperfusion (pengembalian aliran darah ke organ atau jaringan -- dalam kasus ini adalah jantung).

Seperti yang mungkin sudah diduga, jantung-jantung dari tikus yang diberi nitrite punya level nitrite yang lebih tinggi.

Yang lebih signifikan lagi adalah fakta bahwa saat dibandingkan dengan tikus kontrol, jantung-jantung dari tikus yang diberi nitrite punya 48 persen pengurangan dalam kerusakan otot-otot jantung.

Tikus yang berada pada diet tinggi nitrite juga lebih besar kemungkinannya untuk selamat dari serangan jantung. Tingkat keberlangsungan hidup mereka adalah 77 persen; tikus yang berada pada diet kekurangan nitrite tingkat keberlangsungan hidupnya hanya 58 persen dari waktu.

Saat para peneliti melakukan percobaan yang mirip dengan nitrate, tikus yang diberi nitrate memiliki jumlah nitrate yang lebih tinggi di dalam otot-otot jantungnya dan punya kerusakan otot jantung yang lebih sedikit, meski pengurangan dalam kerusakan itu lebih kecil dibanding yang di dapat dari nitrite.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, ‘‘nitrite dan nitrate mungkin bertindak sebagai gizi penting untuk kesehatan jantung yang optimal dan mungkin menyediakan suatu cara perawatan untuk kesehatan jantung.’’

Perlindungan Terhadap Penyakit Peradangan Otak

Dalam dua buah studi--sebuah studi in vitro dan studi kedua pada tikus--yang dipublikasikan secara bersamaan tahun 2008 di Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti dari University of Illinois at Urbana-Champaign mengamati hubungan antra konsumsi dari luteolin, sebuah flavonoid yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dari seledri (dan lada hijau) dengan peradangan otak.

Para peneliti mereawat cell-cell otak microglia dengan berbagai konsentrasi dari luteolin. Mereka kemudian mengekspose cell-cell ke suatu zat yang menyebabkan peradangan. Saat dibandingkan dengan cell-cell yang tidak dirawat, luteolin menghambat peradangan sebanyak 90 persen.

Dalam percobaan in vivo pada tikus, para peneliti memberikan tikus konsentrasi yang berbeda dari luteolin. Setelah 21 hari, mereka menyuntikkan zat pemicu peradangan yang sama. Luteolin ditemukan mengurangi level peradangan.

Bahkan, tikus yang diberikan konsentrasi tertinggi dari luteolin punya perlindungan paling besar dalam hippocampus, sebuah area di dalam otak yang berhubungan dengan proses mengingat dan belajar.

Karenanya, para peneliti berspekulasi bahwa luteolin mungkin bermanfaat dalam pencegahan penyakit-penyakit otak misalnya Alzheimer’s dan dementia.

Nah, haruskah seledri disertakan ke dalam diet?

Pasti! Dan adalah ide yang bagus untuk mengkonsumsinya dengan minimal satu sayuran jenis brassica.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Wortel

Makanan yang satu ini ada dimana-mana.

Hampir disemua pasar setidaknya punya beberapa varietas wortel.

Ada wortel yang besar dan ada pula wortel yang sangat kecil - ada yang berukuran sedang.

Wortel itu secara tradisional dikenal untuk menyehatkan mata, dan penelitian telah menunjukkan bahwa wortel mungkin juga bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan berbagai gangguan medis lainnya.

Lalu, apa yang dikatakan oleh para peneliti?

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di The Journal of Nutrition, para peneliti membagi sekelompok tikus, yang diberi bibit penyakit atherosclerosis, menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama diberi makan diet yang tidak mengandung sayuran; kelompok kedua di beri makan diet yang menyertakan sayuran, misalnya wortel dan kacang polong. Pada akhir minggu ke 16, para peneliti mengukur tingkat kolesterol di dalam saluran darah.

Mereka menemukan bahwa tikus yang diberi makan diet yang diperkaya dengan sayuran punya plak-plak yang 38 persen lebih kecil. Selain itu, terdapat juga 37 persen pengurangan dalam serum amyloid, yang berarti bahwa terdapat pengurangan dalam peradangan.

‘‘Hasil ini mengindikasikan bahwa sebuah diet yang kaya akan sayuran hijau dan kuning itu menghambat pengembangan atherosclerosis dan mungkin karenanya mengarah pada pengurangan resiko dari penyakit jantung koroner.’’

Sebuah studi dari 3.016 pria dan wanita Jepang yang berusia antara 39 sampai 80 tahun dipublikasikan pada tahun 2006 di Journal of Epidemiology. Selama hampir 12 tahun periode follow-up, terdapat 80 total kematian akibat penyakit jantung.

Para peneliti menemukan bahwa level yang tinggi dari alpha- dan beta-carotene (terdapat di dalam wortel) di dalam tubuh itu berhubungan dengan pengurangan resiko dari kematian akibat penyakit jantung.

Dalam sebuah studi tahun 2008 di The Journal of Nutrition, selama 15 tahun para peneliti mengikuti 559 pria, dengan usia rata-rata 72 tahun. Selama kurun waktu tersebut, 197 pria meninggal akibat penyakit jantung.

Pria yang mengkonsumsi alpha- dan beta-carotenes (dari wortel) terbanyak punya pengurangan yang signifikan dari kematian akibat penyakit jantung.

Para peneliti menyimpulkan bahwa jumlah asupan wortel itu memiliki hubungan terbalik dengan tingkat kematian akibat penyakit jantung pada pria manula.

Pencegahan Kanker

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2005 di Journal of Agricultural and Food Chemistry mengamati hubungan antara kanker colorectal pada tikus-tikus dengan konsumsi dari wortel mental atau falcarinol, sebuah pestisida natural pembunuh penyakit yang terdapat di dalam wortel. (Dalam diet manusia, satu-satunya sumber falcarinol adalah wortel).

Para peneliti membagi 24 tikus yang memiliki tumor pra-kanker colorectal kedalam tiga kelompok.

Kelompok pertama diberi makan diet regular makanan tikus ditambah 10 persen wortel kering beku; kelompok kedua diberi makan makanan tikus ditambah falcarinol (dalam jumlah yang sama dengan wortel kering beku); dan kelompok ketiga hanya diberi makan makanan tikus standard.

Setelah 18 minggu, para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang diberi makan wortel atau falcarinol punya kemungkinan sepertiga kali lebih kecil untuk mengembangkan tumor kanker colorectal dibanding tikus yang diberi makan makanan tikus standard.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, ‘‘Studi ini memberikan sebuah perspektif baru mengenai hubungan yang sudah diketahui antara konsumsi yang tinggi dari wortel dengan pengurangan munculnya kanker.’’

Para peneliti di Anderson Cancer Center di University of Texas, Houston, mempelajari hubungan antara konsumsi makanan-makanan yang mengandung phytoestrogen, misalnya wortel, dengan kanker paru-paru.

Dalam sebuah artikel tahun 2005 di JAMA, The Journal of the American Medical Association, para peneliti membandingkan sejarah pola makan dari 1.674 orang penderita kanker paru-paru dengan 1.735 orang yang sehat. Dan hasilnya ternyata sungguh dramatis.

Setelah mengontrol untuk status merokok dan berbagai faktor resiko lainnya yang sudah diketahui, munculnya kanker paru-paru pada orang-orang yang mengkonsumsi phytoestrogen tertinggi adalah 46 persen lebih rendah dibanding orang-orang yang mengkonsumsi phytoestrogen paling sedikit.

Meski menyadari bahwa, ‘‘ada keterbatasan dan keprihatinan mengenai studi kasus-kontrol dari diet dan kanker,’’ para peneliti mencatat bahwa, ‘‘data ini menyediakan dukungan lebih lanjut untuk bukti epidemilogic yang terbatas namun sedang berkembang bahwa phytoestrogen itu berhubungan dengan suatu pengurangan dalam resiko dari kanker paru-paru.’’

Pencegahan Diabetes

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di Journal of Epidemiology menemukan bahwa pigment-pigment antiosidant pada carotenoid yang ditemukan di dalam makanan misalnya wortel (dan tomat serta daun-daunan hijau gelap) mungkin mencegah orang-orang dari mengembangkan diabetes.

Para peneliti menganalisa data dari 4.493 subjek, yang berusia antara 18 sampai 30 tahun, yang berpartisipasi dalam Coronary Artery Risk Development Young Adults Study. Selama 16 tahun mengikuti perkembangan kelompok ini, 148 orang mengembangkan diabetes.

Orang yang tidak merokok yang dietnya tinggi dalam carotenoid ditemukan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan diabetes. Bahkan, mereka punya resiko setengah kali lebih kecil. Orang-orang yang merokok tampaknya tidak menunjukkan manfaat seperti itu.

Menurunkan Resiko untuk Prostatic Hyperplasia (Pembesaran Prostate)

Dalam sebuah studi tahun 2007 yang di publikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition, mengamati peranan yang mungkin dipegang oleh buah-buahan dan sayuran, misalnya wortel dan belewa, terhadap pencegahan dari suatu kondisi tidak nyaman yang dikenal sebagai benign prostatic hyperplasia (BPH).

Para peneliti membandingkan sekitar 6.000 pria yang berusia antara 46 sampai 81 tahun yang pernah melakukan operasi untuk gejala-gejala dari benign prostatic hyperplasia, dengan 18.000 pria yang tidak pernah mengalami gangguan-gangguan prostat.

Para peserta studi yang memakan rata-rata minimal satu setengah sajian makanan beta-carotene per hari, misalnya wortel dan belewa, punya 13 persen penurunan resiko dari pembesaran prostat dibanding mereka yang hanya memakan sekitar satu sajian per minggu.

Para peneliti mencatat bahwa ‘‘penemuan mereka itu konsisten dengan hypotesa bahwa sebuah diet yang kaya akan sayuran itu mungkin mengurangi terjadinya BPH.’’

Menurunkan Resiko untuk Age-Related Macular Degeneration (ARMD atau AMD)

Sebuah studi Belanda yang dipublikasikan tahun 2005 di JAMA, The Journal of the American Medical Association menyertakan lebih dari 4.000 orang yang berusia 55 tahun ke atas. (AMD, suatu penyakit dimana terjadi kehilangan penglihatan pusat, adalah penyebab utama dari kebutaan dalam kelompok usia ini.)

Selama delapan tahun studi, para peneliti membandingkan perubahan-perubahan pada mata dari para peserta, dengan jumlah asupan dari nutrisi yang menyertakan makanan-makanan yang mengandung beta-carotene, misalnya wortel.

Para peneliti menemukan bahwa para peserta yang mengkonsumsi suatu jumlah menengah keatas dari makanan-makanan yang mengandung beta-carotene, juga vitamin C, E dan zinc, punya penurunan 35 persen lebih rendah untuk resiko dari AMD.

Dalam studi lain, pada wanita di Iowa, Wisconsin, dan Oregon, yang dipublikasikan tahun 2006 di Archives of Ophthalmology, para peneliti mengamati hubungan antara asupan lutein dan zeaxanthin, yaitu dua jenis carotenoid, dengan timbulnya age-related macular degeneration.

Mereka menemukan bahwa pada wanita sehat yang berusia 75 tahun kebawah, diet yang kaya akan dua carotenoid ini mungkin punya beberapa nilai perlindungan.

Studi lain, yang dipublikasikan tahun 2007 di Archives of Ophthalmology, menemukan hasil yang serupa. Studi ini, yang menyertakan 4.519 orang dengan usia antara 60 sampai 80 tahun, mengamati sebuah hubungan terbalik antara konsumsi carotenoid, misalnya wortel, vitamin A, alpha-tocopherol, dan vitamin C, dengan AMD.

Mereka yang paling banyak mengkonsumsi nutrisi ini punya kemungkinan lebih kecil untuk mengembangkan AMD. Jadi sudah jelas bahwa wortel itu adalah suatu penambahan yang sangat bagus untuk diet.

Tapi, wortel seharusnya tidak dimakan secara berlebihan, sebab jika dimakan secara berlebihan, wortel mungkin akan menyebabkan hypercarotenemia, sebuah kondisi yang membuat bagian-bagian kulit dan bagian putih dari mata berubah menjadi orange dan kuning. Dan untuk menyembuhkannya sangat mudah, kurangi makan wortel.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Capers

Karena bentuknya yang begitu kecil dan lebih sering digunakan sebagai penghias dan atau bumbu, mungkin akan sulit bagi sebagian orang untuk memikirkan tentang betapa menyehatkannya capers.

Padahal capers adalah bagian integral dari diet Mediterranean yang begitu banyak di diskusikan, dan ada sejumlah penelitian mengenai pucuk bunga dari tumbuhan semak berduri ini yang dikenal sebagai Capparis spinosa.

Selain itu, meski capers tidak mengandung lemak, tapi dia mengandung protein, vitamin A dan E, niacin, calcium, dan manganese.

Capers juga sumber yang sangat bagus untuk serat, vitamin C dan K, riboflavin, folate, iron, magnesium, dan copper. Yang lebih penting lagi, capers banyak mengandung quercetin, sebuah antioxidant flavonoid yang ampuh.

Pada sisi negatif, capers yang tersedia secara komersial itu cenderung banyak mengandung sodium. Tapi, sebagian besar dari sodium ini mungkin bisa dibilas di dalam sebuah saringan sebelum capers dikonsumsi.

Meski penelitian mengenai capers masih terbatas, tapi tetap penting untuk direview.

Kanker Prostate

Dalam sebuah studi laboratorium yang dipublikasikan tahun 2001 di Carcinogenesis, Mayo Clinic para peneliti di Rochester, Minnesota, menyimpulkan bahwa quercetin itu mampu untuk memblokir aktivitas androgen (hormon) di androgen-responsive jalur-jalur cell prostat manusia.

Dengan memblokir aktivitas ini, perkembangan cell-cell kanker prostat mungkin bisa di cegah atau dihentikan. Para peneliti menyatakan bahwa quercetin berpotensi ‘‘untuk menjadi suatu agent chemopreventive dan atau chemotherapeutic untuk kanker prostat.’’

Kanker Usus

Dalam sebuah studi laboratorium yang dipublikasikan tahun 2005 di Nutrition Journal, para peneliti dari University of Georgia merawat cell-cell colon adenocarcinoma manusia dengan quercetin.

Setelah mengikuti perkembangan dari perawatan ini, para peneliti manemukan sebuah ‘‘penurunan ekspresi dari tiga protein dan peningkatan ekspresi dari satu protein.’’

Menurut para peneliti, ‘‘perubahan seperti itu dalam level dari protein tertentu ini bisa mendasari aksi chemoprotective dari quercetin ke arah kanker usus.’’

Dalam sebuah studi yang di publikasikan di The Journal of Nutrition, para peneliti dari Texas A & M University menyelidiki bagaimana tikus-tikus laboratorium yang mengidap atau tidak mengidap kanker usus tahap awal akan merespon terhadap diet yang ditambah dengan quercetin.

Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang diberi makan quercetin punya kemampuan yang lebih baik untuk mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan cell-cell baru yang sehat dengan kematian dari cell-cell yang sudah menyelesaikan tugasnya.

Tikus-tikus tersebut punya tingkat yang rendah dari petumbuhan cell-cell kanker baru dan tingkat yang tinggi dari cell-cell yang akan mati, sebuah proses yang dikenal sebagai apoptosis. Karenanya, tikus-tikus yang mendapat tambahan quercetin punya usus yang lebih sehat.

Para peneliti yang sama juga mengamati Cox-1 dan Cox-2, dua enzim yang ada di dalam kanker usus. Mereka menemukan bahwa tikus-tikus yang mengkonsumsi quercetin punya level yang lebih rendah dari enzim ini di dalam tubuh mereka.

Meski penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, tapi para peneliti berspekulasi bahwa quercetin mungkin menekan pertumbuhan kanker.

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di The Journal of Nutrition, Utah para peneliti mencoba untuk memastikan apakah asupan dari supplement quercetin selama 28 hari, bisa menurunkan tekanan darah pada orang-orang yang mengalami peningkatan level tekanan darah, atau hypertensi.

Secara acak, studi ini menyertakan 19 pria dan wanita yang mengalami pra-hypertensi, serta 22 pria dan wanita yang mengalami hypertensi tahap 1. Dan ternyata, supplement quercetin tidak mengubah level tekanan darah dari subjek yang mengalami pra-hypertensi.

Namun, setelah menjalani perawatan ini, para subjek yang memiliki hypertensi tahap 1 mengalami penurunan dalam level systolic, diastolic, dan tekanan arterial rata-rata.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘data ini adalah yang pertama kali menunjukkan bahwa supplement quercetin mampu mengurangi tekanan darah pada subjek yang mengalami hypertensi.’’

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan secara online tahun 2009 di British Journal of Nutrition, para peneliti menyelidiki efek-efek dari supplement quercetin terhadap faktor-faktor kesehatan jantung misalnya tekanan darah, lipid metabolism, ciri-ciri oksidatif stress, peradangan dan komposisi tubuh pada 93 subjek yang overweight atau obese dengan usai 25 sampai 65 tahun.

Semua subjek menampakkan ciri-ciri dari metabolic syndrome, yang memberikan mereka resiko tambahan untuk penyakit jantung. Selama periode enam minggu, yang dibagi dengan sebuah periode lima minggu pembersihan, para subjek menerima supplement quercetin harian sebanyak 150 mg atau mendapat placebo.

Para peneliti menyatakan bahwa para subjek yang mendapat quercetin mengalami penurunan dalam level tekanan darah systolic mereka, juga pengurangan dalam konsentrasi plasma LDL teroksidasi. Mereka menyimpulkan bahwa, ‘‘quercetin mungkin menyediakan perlindungan terhadap CVD [cardiovascular disease].’’

Beberapa tahun sebelumnya, dalam sebuah studi yang muncu di Journal of Ethnopharmacologyl tahun 2005, para peneliti Moroccan menyelidiki efek dosis oral dari ekstrak capers terhadap lipid metabolism pada tikus normal dan tikus yang menderita diabetes.

Level-level dari plasma triglyceride diukur setelah satu minggu, kemudian diukur lagi setelah dua minggu. Dalam kedua contoh, tikus normal dan diabetic punya penurunan yang signifikan dalam konsentrasi plasma triglyceride.

Sementara itu, level dari plasma cholesterol diukur pada tikus normal setelah empat hari dan satu minggu. Dalam kedua kasus, tikus normal punya level kolesterol lebih rendah.

Level kolesterol pada tikus diabetic diukur setelah empat hari dan dua minggu. Sekali lagi, ada penurunan yang signifikan. Setelah empat hari dari ekstrak capers, tikus-tikus diabetec punya mengalami penurunan yang signifikan dalam berat tubuh.

Para peneliti mencatat bahwa tampaknya ekstrak capers ‘‘menunjukkan suatu aktivitas yang kuat untuk menurunkan lipid pada tikus normal dan diabetic setelah diberi ekstrak CS [Capparis spinosa L. or capers] encer secara berulang kali.’’

Kesehatan Secara Keseluruhan

Dalam sebuah studi di Itali tahun 2007 yang dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti menambahkan ekstrak capers pada kalkun panggang dan daging merah. Kemudian, setelah memicu pencernaan, mereka menganalisa hasilnya.

Dari situ para peneliti mengetahui bahwa capers, bahkan saat digunakan dalam jumlah yang kecil, membantu pencegahan pro-oxidant, yaitu melekul-molekul yang menyerang cell-cell yang sehat dan telah dihubungkan dengan suatu peningkatan resiko dari penyakit pembuluh darah dan kanker.

Para peneliti mencatat bahwa capers mungkin sangat bermanfaat untuk kesehatan, terutama pada mereka yang memakan makanan yang banyak mengandung lemak dan daging merah.

Pengurangan Resiko untuk Influenza

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2008 di American Journal of Physiology—Regulatory, Integrative and Comparative Physiology, South Carolina, secara acak para peneliti mengelompokkan tikus untuk menjalani salah satu dari empat kelompok perlakuan, yaitu olahraga-placebo, olahraga-quercetin, kontrol-placebo, atau kontrol quercetin.

Tikus yang berolahraga berlari diatas treadmill sampai lelah selama tiga hari berturut-turut. Para peneliti menyimpulkan bahwa tikus yang berolah raga itu mengalami peningkatan terhadap resiko untuk terkena flu.

Tapi, tikus yang berolah raga dan mendapat quercetin punya tingkat yang hampir sama untuk menjadi sakit seperti pada tikus yang tidak berolah raga. Tingkat keparahan diantara tikus yang tidak berolah raga itu hampir sama dengan tikus yang berolah raga tapi tidak mendapat quercetin.

Para peneliti mencatat bahwa penggunaan quercetin jangka pendek mungkin ‘‘memperkecil dampak dari olahraga yang berat pada subjek yang rentan untuk mengalami infeksi saluran pernapasan.’’

Peningkatan Daya Tahan

Dalam studi lain dari South Carolina, yang dipublikasikan tahun 2009 di American Journal of Physiology, para peneliti menyimpulkan bahwa tikus yang mendapat supplement quercetin selama tujuh hari itu punya lebih banyak mitochondria di dalam cell-cell otot dan otak mereka.

Itu memberikan tikus lebih banyak energi dan membuat mereka mampu untuk berlari jauh lebih lama dibanding tikus yang mendapat placebo.

Para peneliti mengatakan bahwa ‘‘manfaat dari quercetin pada kebugaran tanpa berolahraga mungkin punya dampak penting terhadap peningkatan kinerja atletis dan militer serta mungkin juga bisa untuk mencegah dan atau mengobati penyakit kronis.’’

Nah, apakah capers itu adalah sebuah penambahan yang sehat untuk diet?

Menurut hasil berbagai studi, tampaknya memang begitu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Kubis

Secara historis, kubis sudah dianggap sebagai makanan dan obat.

Di tahun-tahun awalnya, kubis tumbuh di hutan dan lebih terlihat seperti daun-daun kale tanpa bongkol.

Dipercaya bahwa kubis dibawa ke Eropa pada sekitar 600 tahun Sebelum Masehi oleh para pengembara Celtic.

Kemudian, kubis lebih dipuja oleh bangsa Yunani kuno dan Romawi. Seiring waktu, kubis menyebar ke seluruh Eropa dan menjadi populer di Jerman, Polandia, dan Russia.

Saat ini, kubus banyak tumbuh di Russia, Polandia, China dan Jepang. Kubis memiliki tiga jenis utama, yaitu hijau, merah dan Savoy. (Savoy punya rasa yang lebih ringan dan lembut dibanding kubis hijau dan merah).

Kubis adalah sebuah makan yang sangat bergizi. Dia adalah sumber yang bagus untuk vitamin K dan C, serta banyak mengandung serat, manganese, vitamin B6, folate dan omega-3 fatty acid.

Kubis dianggap sebagai sumber dari vitamin A, B1 dan B2, kalsium; potassium, dan protein. Selain itu, kubis mengandung phytochemical misalnya glucosinolates, isothiocyanates, dan indole-3-carbinol, yang dianggap memiliki kemampuan anti-kanker.

Tapi, adalah hal yang penting untuk mereview berbagai penelitian mengenai kubis, yang sebagian besar difokuskan pada kemampuan anti-kanker yang dimilikinya.

Kanker Payudara

Sebuah artikel tahun 2006 di JNCI: Journal of the National Cancer Institute menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh Dorothy Rybaczyk Pathak, PhD, mengenai komunitas imigran Polandia di sekitar Chicago dan Detroit.

Para peneliti telah menyertakan ratusan wanita Polandia-Amerika dan wanita yang terlahir di Polandia lalu berimigrasi ke Amerika. Menurut Dr. Pathak, dalam satu generasi, tingkat kanker payudara pada wanita meningkat tiga kali lipat. Apa yang jadi penyebabnya?

Menurut, Dr. Pathak, itu mungkin berhubungan dengan konsumsi kubis. Dr. Pathak dan rekan-rekannya membagi para subjek ke dalam tiga kategori pengkonsumsi kubis, yaitu rendah (1,5 sajian atau kurang per minggu), menengah (1,5 sampai 3 sajian kubis per minggu), dan tinggi (lebih dari tiga sajian per minggu).

Karena dipercaya bahwa panas mengurangi bioavailability dari glucosinolates di dalam kubis, hanya sajian-sajian kubis mentah dan dimasak secara singkat yang dimasukkan ke dalam perhitungan.

Dalam penemuan yang sangat mengejutkan, saat dibandingkan dengan remaja dan wanita yang memakan 1,5 sajian atau kurang dari kubis mentah atau yang dimasak secara singkat atau sauerkraut (kubis yang dipotong atau dicacah yang difermentasi dalam jusnya sendiri) per minggu, wanita yang memakan lebih dari tiga sajian kubis per minggu punya penurunan 72 persen dalam resiko kanker payudara.

Yang menarik, terdapat hubungan kebalikan yang kuat saat konsumsi tinggi dari kubis yang dimakan selama masa remaja, bahkan saat jumlah yang lebih rendah dikonsunsi ketika dewasa. Namun, konsumsi yang tinggi dari kubis di masa dewasa itu juga berhubungan dengan resiko yang lebih rendah untuk kanker payudara.

Dalam artikelnya, Dr. Pathak menyatakan, ‘‘Ini adalah sebuah populasi yang unik. Orang Polandia mengkonsumsi kubis dalam berbagai bentuk, dan memakannya dalam jumlah yang banyak -- tiga kali lebih banyak dibanding orang Amerika. Bekerja dengan populasi imigran membuat kami bisa mempelajari efek dari berbagai cara memakan kubis yang tidak bisa ditemukan dalam populasi Amerika.’’

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2008 di Carcinogenesis, para peneliti dari Santa Barbara, California, dan Urbana, Illinois, mencatat bahwa kubis dan sayuran silang lainnya, mengandung sejenis isothiocyanate yang dikenal sebagai sulforaphane atau SFN.

Mereka menemukan bahwa sulforaphane menghambat pertumbuhan cell-cell kanker, sama seperti obat-obat anti kanker taxol dan vincristine, yang mengakibatkan cell-cell menjadi mati. Tapi, sulforaphane itu lebih lemah di banding obat-obat anti kanker dan lebih tidak beracun.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘adalah hal yang penting untuk mengetahui apakah SFN mungkin memfasilitasi atau menganggu kemoterapi konvensional’’ Mengapa?

‘‘Karena jika itu tidak mengganggu, berarti ada sebuah kemungkinan menarik bahwa SFN mungkin bermanfaat bukan cuma untuk pencegahan tapi juga untuk perawatan kanker sambil menggunakan obat-obatan konvensional.’’

Dalam sebuah studi tahun 2008 di Proceedings of the National Academy of Sciences, University of California, Berkeley, para peneliti melaporkan bahwa senyawa indole-3-carbinol yang ditemukan dalam kubis itu memerangi cell-cell kanker payudara.

Selama penyelidikan mereka, para peneliti mempelajari bahwa indole-3-carbinol mengurangi level aktivitas dari enzim-enzim elastase, yang telah dihubungkan dengan percepatan pertumbuhan kanker payudara.

Saat elastase ada dalam jumlah yang lebih tinggi, pasien itu lebih mungkin untuk memiliki respon yang lebih kecil pada kemoterapi dan terapi endocrine serta lebih kecil kemungkinannya untuk bertahan.

Para peneliti berteori bahwa indole-3-carbinol atau senyawa yang berhubungan mungkin menjadi ‘‘terapi yang ditargetkan untuk kanker payudara saat level elastase yang tinggi itu berhubungan dengan perkiraan yang rendah.’’

Karenanya, beberapa bentuk dari indole-3-carbinol atau phytochemical yang berhubungan suatu saat nanti mungkin akan disertakan ke dalam perawatan untuk kanker payudara, terutama saat terdapat level elastase yang tinggi.

Kanker Kantung Kemih

Dalam sebuah studi tahun 2007 yang dipublikasikan di International Journal of Cancer, para peneliti dari University of Texas M. D. Anderson Cancer Center di Houston menganalisa diet dari 679 pasien yang menderita kanker kantung kemih dan 708 orang sehat dengan usia, jenis kelamin dan etnis sama.

Para peneliti menemukan bahwa konsumsi rata-rata dari sayuran silang, misalnya kubis, itu sangat rendah pada orang-orang yang menderita kanker kandung kemih dibanding mereka yang sehat.

Bahkan, saat dibandingkan dengan orang yang memakan sayuran silang paling sedikit, orang yang memakan paling banyak punya 29 persen penurunan untuk resiko penyakit.

Unsur perlindungan dari sayuran ini juga terbukti pada mereka yang beresiko besar untuk mengalami kanker kandung kemih, yaitu pria, perokok dan orang-orang yang berusia 64 tahun ke atas.

Kanker Pancreatic

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2009 di JNCI: Journal of the National Cancer Institute, para peneliti dari Texas Tech University Health Sciences Center di Amarillo menyelidiki efek dari salah satu jenis isothiocyanate, yang dikenal sebagai benzyl isothiocyanate, terhadap pengembang biakan cell-cell kanker pancreatic, dan pada tikus yang menjadi model kanker pancreatic.

Para peneliti menemukan bahwa saat cell-cell kanker pancreatic di ekspose ke benzyl isothiocyanate, terdapat jumlah yang tinggi dari cell yang mati (apoptosis). Selain itu, cell-cell pancreatic yang sehat tidak terpengaruh oleh perawatan.

Polyps

Dalam sebuah studi tahun 2006 di Carcinogenesis, para peneliti di New Jersey dan Korea Utara mengamati penggunaan dari sulforaphane pada tikus yang diberi kanker usus polyps, yang diawali dengan kanker colorectal.

Para peneliti menemukan bahwa saat tikus ini diberi makan sulforaphane, tumor mereka menjadi lebih kecil dan perkembangannya lebih lambat. Saat tikus benar-benar mengembangkan polyps, banyak dari polyps ini yang merusak dirinya sendiri.

Dan, tikus yang diberi makan sulforaphane dengan dosis tertinggi, punya resiko lebih rendah untuk mengembangkan polyps dibanding mereka yang memakan dosis lebih rendah. Para peneliti menyimpulkan bahwa sulforaphane punya aktivitas chemoprotective.

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di The Journal of Nutrition, para peneliti Hawaii menyatakan bahwa jumlah yang sangat kecil dari indole-3-carbinol itu mampu untuk mengurangi pengeluaran apolipoprotein B-100 (apoB), yaitu pengantar utama dari kolesterol LDL (jahat), oleh liver.

Karena LDL telah dihubungkan dengan pembentukan plak di dalam saluran darah, berarti menurunkan jumlah LDL sudah jelas akan memberikan manfaat bagi jantung.

Dalam studi lain yang dipublikasikan tahun 2008 di Diabetes, para peneliti dari University of Warwick, Inggris, menyatakan bahwa sulforaphane memicu produksi dari suatu protein yang dikenal sebagai nrf2 yang mensupport kesehatan saluran darah.

Saat sulforaphane ada, aktivasi dari nrf2 jadi berlipat ganda. Support ini mengambil tempat bahkan di dalam saluran darah yang telah rusak, sebuah kasus yang sering dialami oleh para penderita diabetes.

Selain itu, saluran darah yang rusak itu adalah penyebab signifikan dari angka kesakitan dan kematian dari para penderita diabetes.

Peringatan!

Para anggota keluarga dari kubis mengandung goitrogens, suatu bahan natural yang sebagian berpendapat mungkin akan mengganggu fungsi normal dari kelenjar thyroid.

Karena memasak membantu untuk menonaktifkan goitrogens, orang yang menderita penyakit thyroid, misalnya hypothyroidism, mungkin ingin menghindari memakan kubis mentah. Sebaiknya, konsultasikan masalah ini dengan dokter anda.

Nah, haruskah kubis disertakan kedalam diet? Dalam sebagian besar kasus, itu harus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Buckwheat

Berasal dari Asia dan Eropa Utara, buckwheat banyak ditanam di China mulai dari abad ke 10 sampai ke 13.

Selama abad ke 14 dan 15, buckwheat juga tumbuh di Eropa dan Russia.

Orang Belanda membawa buckwheat ke Amerika pada abad ke 17.

Buckwheat banyak mengandung manganese, magnesium dan serat. Meski sebagian besar seratnya adalah insobluble, yang mensupport gastrointestinal tract, tapi buckwheat juga mengandung serat soluble, yang menurunkan kolesterol dan memperlambat pencernaan, membuat seseorang merasa kenyang untuk waktu yang lebih lama.

Selain itu, buckwheat juga mengandung amino acids, protein, copper, selenium, zinc, juga flavonols rutin dan quercetin.

Adalah hal yang menarik untuk dicatat bahwa buckwheat itu bukanlah wheat atau sereal grain. Meski terlihat mirip dan dipersiapkan sebagai sebuah grain, tapi buckwheat sebenarnya adalah buah dari tanaman broadleaved, yang berhubungan dengan rhubarb.

Buckwheat sendiri tidak mengandung gluten. Jadi, dia bisa menjadi suatu pilihan yang bagus untuk orang-orang yang punya sensitivitas terhadap gluten atau celiac disease.

Namun, buckwheat sering digunakan untuk membuat roti, pasta dan pancakes. Dan tergantung dari bahan-bahan lain, itu mungkin mengandung atau tidak mengandung gluten. Misalnya, buckwheat mungkin dikombinasikan dengan tepung terigu untuk membuat soba noodles, yang tidak mengandung gluten.

Buckwheat memang tampaknya tidak menjadi suatu grain yang favorit di Amerika. Itu mungkin akan berubah saat semakin banyak orang yang mendengar tentang apa yang dipelajari oleh oleh para peneliti.

Kesehatan Jantung

Para peneliti Wisconsin tahu bahwa makanan yang mengandung protein, misalnya kedele, itu mampu untuk menurunkan kadar kolesterol.

Mereka juga sadar bahwa penelitian terhadap hewan telah membuktikan bahwa protein buckwheat mampu meningkatkan jumlah kolesterol yang terdapat di fecal excretion dan menurunkan jumlah serum kolesterol di rodent.

Jadi, mereka memutuskan untuk menggunakan contoh cell usus manusia untuk memahami bagaimana protein buckwheat bisa mengubah penyerapan kolesterol.

Dalam sebuah studi tahun 2007 yang dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti menemukan bahwa protein buckwheat memiliki kemampuan yang kuat untuk mengikat kolesterol. Sehingga, protein tersebut mengurangi penyerapan kolesterol sebanyak 47 persen.

Kolesterol usus yang tidak terserap itu dibuang keluar dari tubuh, sehingga mengurangi jumlah kolesterol yang bersirkulasi di dalam darah. Sebagai hasilnya, konsumsi rutin dari buckwheat membantu menghilangkan lebih banyak kolesterol dari dalam darah dan menurunkan level dari serum kolesterol.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di Journal of Food Science, para peneliti Jepang menyelidiki efek-efek dari memberi makan tikus dengan sebuah diet yang memperkaya kolesterol, entah melalui protein buckwheat atau protein tartary buckwheat.

Para peneliti menemukan bahwa produk protein buckwheat dan produk protein tartary buckwheat mengurangi level kolesterol sebanyak 32 dan 25 persen, secara berturut-turut.

Para peneliti menyimpulkan bahwa jika buckwheat terbukti sama efektifnya pada manusia, itu mungkin akan bermanfaat bagi jutaan orang yang sedang berhadapan dengan peningkatan level kolesterol.

Dalam sebuah studi Korea Utara tahun 2008 yang dipublikasikan di Annals of Nutrition and Metabolism, para peneliti memberi makan 40 tikus jantan dengan sebuah diet obesogenic (sebuah diet yang memacu obesitas) selama empat minggu. Kemudian, tikus-tikus tersebut dibagi menjadi empat kelompok.

Selama empat minggu berikutnya, masing-masing kelompok diberi makan sebuah diet yang mengandung salah satu dari makanan-makanan berikut ini: nasi putih, adlay; buckwheat, atau waxy barley.

Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang memakan diet yang diperkaya dengan adlay-buckwheat- dan waxy-barley mengalami peningkatan besar dalam level triglycerides dibanding tikus-tikus yang memakan diet yang diperkaya dengan nasi putih.

Tikus-tikus yang memakan diet yang ditambah dengan buckwheat - dan waxy barley, mengalami penurunan dalam level kolesterol total dan LDL (jahat) dan peningkatan dalam level kolesterol HDL (baik) dibanding tikus-tikus yang memakan diet plus nasi putih.

Tikus-tikus yang memakan buckwheat dan waxy barley memiliki aortic lumen (opening) yang lebih besar dibanding yang memakan adlay dan nasi putih.

Para peneliti mencatat bahwa ‘‘konsumsi dari diet yang mengandung buckwheat dan waxy barley, secara signifikan memperbaiki beberapa faktor resiko yang disebabkan oleh obesitas pada tikus-tikus percobaan.’’

Manajemen Diabetes

Dalam sebuah studi tahun 2003 yang dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti menemukan bukti bahwa buckwheat mungkin bermanfaat bagi orang-orang yang berhadapan dengan diabetes.

Para peneliti memulai dengan sekitar 40 tikus yang dipicu untuk mengalami diabetes type 1 secara kimiawi. Sebagian dari tikus-tikus itu lalu diberikan sebuah dosis dari ekstrak buckwheat, dan sebagian lagi placebo.

Setelah 90 menit dan 120 menit, glukosa dari tikus-tikus tersebut di ukur. Meski tidak ada pengurangan glukose pada tikus yang diberikan placebo, namun tikus-tikus yang diberikan ekstrak biji buchwheat mengalami penurunan level glukose sebanyak 12 sampai 19 persen.

Menurut para peneliti, buckwheat mampu untuk menurunkan level glukose karena banyak mengandung sebuah senyawa yang dikenal sebagai chiroinositol, yang membuat cell-cell jadi lebih sensitif terhadap insulin.

Kanker

Sebuah studi National Cancer Institute yang dipublikasikan pada tahun 2008 di Lung Cancer mencatat bahwa di pedalaman Xuanwei County, China, banyak terjadi kanker paru-paru.

Itu perkirakan akibat langsung dari asap hasil pembakaran batu bara untuk memasak dan ventilasi rumah yang kurang baik. ‘‘Sehingga, penduduk bisa jadi terekspose pada emisi batu bara carcinogenic bukan cuma melalui pernapasan tapi juga pencernaan dari makanan yang dimasak.’’

Para peneliti melakukan sebuah studi kontrol berbasis populasi dari kelompok ini yang terdiri dari 498 orang penderita kanker paru-paru dan 498 orang yang berada dalam kelompok kontrol.

Mereka menemukan bahwa asupan nasi, sayuran hijau, jamur dan daging segar itu berhubungan dengan sebuah peningkatan dalam resiko dari kanker paru-paru. Sebaliknya, konsumsi dari buckwheat, jagung, lobak, selada, melon, acar-acaran, dan daging yang diasinkan itu berhubungan dengan pengurangan resiko untuk kanker paru-paru.

Jadi, setidaknya dalam studi ini, buckwheat berada diantara beberapa makanan yang dipercaya bisa menurunkan resiko dari kanker paru-paru.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di International Journal of Epidemiology, para peneliti menggunakan data dari UK Women’s Cohort Study untuk mereview hubungan antara serat diet, misalnya serat di dalam buckwheat, dengan timbulnya kanker payudara.

Studi ini menyertakan 35.972 wanita pre-menopausal dan postmenopausal. Pada wanita pre-menopausal, ditemukan sebuah hubungan secara statistik antara jumlah total asupan serat dengan resiko dari kanker payudara.

Bahkan, wanita pre-menopausal yang memakan lebih dari 30 gram serat per hari, mampu mengurangi setengah dari resiko mereka untuk menderita kanker payudara.

Saat dibandingkan dengan wanita pre-menopausal yang memakan serat kurang dari 20 gram per hari, mereka memiliki sebuah pengurangan resiko kanker payudara sebanyak 52 persen.

Serat dari whole grain, misalnya buckwheat, paling banyak menawarkan perlindungan. Wanita pre-menopausal yang memakan setidaknya 13 gram serat wholegrain per hari, punya 41 persen penurunan dalam resiko dari kanker payudara dibanding wanita pre-menopausal yang memakan kurang dari 4 gram per hari.

Secara statistik, tidak terlihat hubungan seperti itu pada wanita post-menopausal.

Kesehatan Secara Umum

Dalam sebuah studi cross-sectional yang dipublikasikan pada tahun 2007 di Clinical and Experimental Pharmacology and Physiology, para peneliti dari Shanghai, China, mengambil sampel sebanyak 3.542 orang dari dua wilayah perbatasan Inner Mongolia, China.

Satu kelompok mengkonsumsi buckwheat sebagai makanan utama; kelompok lain mengkonsumsi jagung.

Para peneliti berharap untuk menemukan sebuah hubungan antara tingkat hypertensi (tekanan darah tinggi), konsentrasi lemak darah yang tidak normal, dan hyperglycemia (level gula darah yang tinggi) dengan konsumsi dari makanan-makanan utama ini.

Secara statistik, para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara ke dua kelompok. Kelompok yang memakan biji buckwheat punya level tekanan darah, lemak dan gula darah yang lebih baik dibanding kelompok yang mengkonsumsi jagung.

Para peneliti menyimpulkan bahwa buckwheat mungkin membantu pencegahan dari gangguan-gangguan medis ini.

Jadi, haruskah buckwheat disertakan ke dalam diet?

Kecuali seseorang punya allergi terhadap buckwheat, sudah seharusnya buckwheat menjadi bagian dari diet.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Brokoli

Meski brokoli sudah lama dianggap sebagai makanan yang sangat sehat, tapi hidup tidak selalu mudah bagi sayuran ini.

Dua dekade lalu, terutama menjadi sangat sulit dalam masa-masa awal kepresidenan dari George H. W. Bush. Pada saat itu Presiden Bush mengatakan bahwa meski dia selalu membenci brokoli, tapi saat masih kecil, ibunya memaksa dia untuk memakannya.

Setelah dia menjadi seorang pemimpin dunia bebas, dia tidak perlu lagi memakan brokolo. Bahkan dulu, sewaktu masih jadi presiden, dia tidak mengijinkan brokoli di sajikan di Gedung Putih. Meski dia cukup kukuh, mungkin sang mantan presiden harus mempertimbangkan kembali mengenai apa yang telah dia katakan.

Brokoli dipercaya menjadi sumber yang sangat baik untuk vitamin C, K dan A; folate dan serat. Brokoli banyak mengandung manganese, tryptophan, potassium, vitamins B6 and B2, phosphorus, magnesium, protein, dan omega-3 fatty acids.

Selain itu, brokoli juga mengandung vitamin B1, B3, dan B5 serta zat besi, kalsium, zinc, dan vitamin E. Tapi kita masih perlu menyelidiki berbagai penelitian mengenai brokoli.

Kanker Kandung Kemih

Dalam sebuah studi di Texas yang dipublikasikan tahun 2007 di International Journal of Cancer, para peneliti membandingkan diet dari 679 pasien yang baru di diagnosa kanker kandung kemih dengan 708 orang sehat sebagai kontrol, yang berusia, berjenis kelamin dan beretnis sama.

Tidak lama setelah itu, tampak jelas bahwa para pasien yang menderita kanker kandung kemih jauh lebih jarang memakan sayuran hasil silang, misalnya brokoli, dibanding orang-orang yang sehat.

Bahkan saat dibandingkan dengan para subjek yang memakan sayuran hasil silang paling sedikit, para subjek yang paling banyak memakan sayuran ini punya 29 persen pengurangan resiko dari pengembangan kanker kandung kemih.

Yang menarik, brokoli dan berbagai sayuran silang lainnya paling banyak menyediakan perlindungan pada mereka yang beresiko tertinggi -- pria, perokok dan manula. Para peneliti mencatat bahwa sama seperti sayuran silang lainnnya, brokoli itu mengandung isothiocyanates (ITCs), yaitu suatu senyawa non-gizi yang memerangi kanker.

Dalam sebuah studi tahun 2008 yang dipublikasikan di Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention, para peneliti di Roswell Park Cancer Institute in Buffalo, New York, melakukan sebuah studi kasus-kontrol dari 275 pasien yang menderita kanker kandung kemih dan 825 kontrol yang tidak mengidap kanker.

Mereka menemukan ‘‘sebuah hubungan terbalik yang kuat dan signifikan secara statistik antara resiko kanker kandung kemih dengan jumlah asupan sayuran silang mentah.’’

Hubungan terbalik ini juga signifikan diantara para perokok. Namun, tidak ada hubungan yang ditemukan dengan sayuran silang yang dimasak. Para peneliti mencatat bahwa ketidak konsistenan dalam penemuan ini mungkin disebabkan karena cara memasak yang ‘‘secara substansial mengurangi atau merusak isothiocyanates.’’

Mengomentari hasil ini, dalam sebuah artikel tahun 2008 di Oncology News International, Li Tang, MD, PhD, mencatat, ‘‘Sayuran-sayuran silang yang mentah misalnya brokoli, kubis dan kembang kol itu lebih baik dibanding yang dimasak dalam hal pencegahan kanker kandung kemih.

Mengkonsumsi sayuran seperti itu sebanyak tiga kali atau lebih per bulan mungkin mengurangi resiko dari kanker kandung kemih sebanyak 37 persen.

Para perokok, bahkan perokok berat sekalipun, mungkin akan mendapat manfaat dari mengkonsumsi sayuran silang yang mentah. Pengurangan resiko untuk para perokok adalah 40 persen sampai 54 persen.’’

Dalam sebuah studi di New Zealand yang dipublikasikan pada tahun 2008 di Cancer Research, para peneliti memicu kanker kandung kemih pada tikus-tikus. Lalu, mereka memberi makan tikus-tikus tersebut dengan ekstrak brokoli.

Para peneliti menemukan bahwa, ‘‘munculnya, menyebarnya, ukuran dan perkembangan dari kanker kandung kemih terhambat oleh ekstrak tersebut, sementara ekstrak itu sendiri tidak menyebabkan gangguan pada kandung kemih.’’

Kanker Prostat

Dalam sebuah studi tahun 2007 di JNCI: Journal of the National Cancer Institute, para peneliti menggunakan data Prostate, Lung, Colorectal, and Ovarian Cancer Screening Trial untuk mengevaluasi hubungan antara resiko kanker prostat dengan jumlah asupan buah dan sayuran.

Dari 29.361 pria dalam kelompok, 1.338 ditemukan memiliki kanker prostat selama 4,2 tahun masa follow-up.

Meski para peneliti tidak menemukan sebuah hubungan antara konsumsi sayuran dan buah dengan resiko keseluruhan dari kanker prostat, tapi mereka menemukan adanya hubungan antara asupan tertinggi dari sayuran, terutama brokoli dan kembang kol, dengan pengurangan resiko dari kanker prostat yang telah menyebar keluar prostat.

Kesehatan Jantung

Dalam sebuah studi tahun 2008 yang dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti memberi makan sekelompok tikus dengan brokoli; kelompok lain adalah sebagai kontrol. Di akhir hari ke 30, para peneliti memberikan serangan jantung eksperimental.

Saat dibandingkan dengan kelompok kontrol, setelah serangan jantung, tikus-tikus yang diberi makan brokoli punya jumlah yang lebih rendah dari otot-otot dan cell-cell otot jantung yang mati. Mereka juga mengalami perubahan yang positif pada protein dan kimiawi yang melindungi jantung.

Kesehatan Kulit

Dalam sebuah studi tahun 2007 di Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States, para peneliti menjelaskan penggunaan ekstrak brokoli untuk kulit dan tikus yang tidak berbulu, lalu pada kulit enam relawan manusia.

Dalam studi pada tikus, setelah diberikan ekstrak brokoli, tikus-tikus tersebut diekspose pada radiasi ultraviolet. Tikus-tikus lain bertindak sebagai kontrol. Para peneliti menemukan bahwa tikus yang diberi ekstrak mengembangkan tomur kanker kulit yang lebih sedikit dibanding kelompok kontrol.

Dan, tumor yang berada pada tikus yang diberi ekstrak memang berkembang lebih kecil dibanding tikus kontrol.

Pada studi manusia, para peneliti memilih dua lokasi di bagian punggung masing-masing relawan, yang berusia antara 28 sampai 53 tahun. Satu sampai tiga hari sebelum mengekspose punggung pada radiasi ultraviolet, ekstrak brokoli di aplikasikan pada salah satu dari lokasi.

Para peneliti menemukan bahwa area yang diberi ekstrak brokoli punya rata-rata 37,7 persen lebih sedikit mengalami kemerahan dan peradangan dibanding area yang tidak beri ekstrak. Namun, reaksi dari ekstrak bervariasi pada masing-masing orang.

Anti-Aging

Dalam sebuah studi tahun 2008 di The Journal of Allergy and Clinical Immunology, UCLA para peneliti menemukan bahwa saat sulforaphane, sebuah zat yang ditemukan di dalam brokoli diberikan secara langsung pada tikus tua, penurunan dalam fungsi cell-cell immune menjadi terhambat.

Hasil yang sama juga di dapat saat mereka mengumpulkan cell-cell immune secara individual dari tikus tua, merawatnya, lalu mengembalikan cell-cell tersebut kepada hewan penerima.

Selain itu, para peneliti mengetahui bahwa saat cell-cell dendritic, yang ditemukan dengan zat-zat asing dan agen-agen penginfeksi pada sistem immune, diekspose pada sulforaphane, mereka meningkatkan fungsi immune dari tikus tua.

Karenanya, adalah hal yang mungkin bahwa sulforaphane punya potensi untuk memperkuat kembali sistem immune dari manula sehingga mereka bisa lebih baik dalam pencegahan penyakit yang berhubungan dengan penuaan.

Menurut Andre E. Nel, salah satu dari peneliti, ‘‘Ini adalah sebuah cara berpikir baru yang radikal mengenai cara meningkatkan fungsi immune sistem dari para manula untuk kemungkinan melindungi penyebaran infeksi dan kanker.’’

Peringatan!

Dalam suatu studi tahun 2008 di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti Belanda merekrut enam pria untuk mengkonsumsi 200 gram brokoli matang atau mentah dengan sebuah makanan hangat. Setelah makan, sampel darah dan urin diambil setiap jam.

Pria yang memakan brokoli mentah ditemukan memiliki jumlah sulforaphane yang jauh lebih banyak di dalam darah dan urine mereka.

Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘mengkonsumsi brokoli mentah menghasilkan penyerapan yang lebih cepat, bioavailability yang lebih tinggi, dan jumlah plasma yang lebih tinggi dari sulforaphane, dibanding brokoli matang.’’

Jadi, brokoli mentah itu adalah sebuah pilihan yang lebih baik dibanding brokoli matang. Tapi, saat brokoli mentah tidak tersedia, brokoli matang itu tetap menjadi makanan yang lebih baik.

Nah, haruskah brokoli menjadi bagian rutin dari diet? Oh tentu, itu harus!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Kacang Brazil

Selenium adalah sebuah unsur penting yang ditemukan dalam beberapa jenis makanan.

Tapi, dari semua makanan yang mengandung selenium, kacang Brazil adalah yang terbanyak mengandung selenium.

Jika sebutir telur utuh berukuran sedang memiliki 14 microgram selenium dan satu ons keju cheddar memiliki 4 microgram selenium, tapi satu ons kacang Brazil kering mengandung 544 microgram selenium.

Di seluruh dunia, selain dari kacang Brazil, makanan-makanan yang berasal dari tanaman itu dianggap sebagai sumber diet untuk selenium.

Namun, jumlah dari selenium di dalam suatu makanan tertentu itu sangat tergantung dari jumlah selenium yang terdapat di dalam tanah.

Di Amerika, tanah di Dakota dan dataran tinggi dari utara Nebraska mengandung level selenium yang tinggi. Orang-orang yang hidup di wilayah tersebut cenderung memiliki asupan selenium tertinggi.

Sebaliknya, tanah-tanah di wilayah China dan Russia pada intinya tidak mengandung selenium.

Penelitian mengenai kacang Brazil dan selenium itu tidak selalu konsisten. Meski begitu, hal itu masih tetap menarik untuk di review.

Kanker Prostat

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2001 di The Journal of Urology, meninjau kembali hubungan antara jumlah selenium di dalam darah dengan resiko dari pengembangan kanker prostat.

Penelitian ini dilengkapi dengan menggunakan pria yang terdaftar di Baltimore Longitudinal Study of Aging. Itu termasuk ‘‘52 orang yang diketahui mengidap penyakit kanker prostat dan 96 orang yang berada dalam kelompok kontrol dengan usia yang sama dan tidak terdeteksi menderita kanker prostat.’’

Para peneliti menemukan bahwa tingkat selenium yang rendah di dalam darah itu ‘‘berhubungan dengan sebuah peningkatan resiko sebanyak 4 sampai 5 kali untuk mengembangkan kanker prostat.’’

Beberapa tahun kemudian, ditahun 2004, penelitian lain mengenai hubungan antara level selenium di dalam darah dan kanker prostat telah dipublikasikan di JNCI: Journal of the National Cancer Institute.

Para peneliti, yang menggunakan data dari para pria yang mendaftar di Physician’s Health Study, menemukan ‘‘bahwa level selenium tertinggi mungkin memperlambat perkembangan tumor kanker prostat.’’

Namun, sebuah artikel yang di publikasikan pada tahun 2009 di JAMA, The Journal of the American Medical Association mencatat perbedaan yang sangat menyolok dari studi yang melibatkan 35.533 pria sehat dari 427 tempat di Amerika, Kanada dan Puerto Rico.

Secara acak, para pria ini dibagi ke dalam empat kelompok: selenium (200 microgram per hari), vitamin E (400 IU/day), selenium dan vitamin E, dan placebo.

Meski follow-up awalnya direncanakan untuk 7 sampai 12 tahun, tapi setelah 5,46 tahun, para peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan diantara ke empat kelompok.

Para peneliti menyimpulkan bahwa selenium (dan vitamin E) ‘‘tidak mencegah kanker prostat dalam populasi dari pria yang relatif sehat.’’

Fungsi Kognitif

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di American Journal of Epidemiology menguraikan sebuah survey yang dilakukan terhadap 2 ribu orang, dengan usia 65 tahun ke atas, yang hidup di dua provinsi berbeda di pedalaman China.

Lebih dari 70 persen orang yang di survey telah hidup di desa yang sama sejak lahir. Untuk menentukan level selenium, sampel kuku dikumpulkan. (kuku digunakan karena tumbuh secara perlahan dan mantap dan memberikan sebuah gambaran mengenai jumlah selenium seiring waktu).

Para subjek diberikan serangkaian test termasuk Community Screening Instrument for Dementia (CSID), Indiana University Token Test, dan Consortium to Establish a Registry for Alzheimer’s Disease (CERAD).

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang memiliki level selenium lebih rendah punya tingkat fungsi kognitif yang lebih rendah. Bahkan, rating mereka cenderung setara dengan orang-orang yang berusia sepuluh tahun lebih tua.

Para peneliti mengatakan bahwa, ‘‘hasil dari penelitian ini mendukung hipotesa bahwa level selenium yang rendah dalam jangka waktu yang lama itu berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih rendah.’’

Kanker Kantung Kemih

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2009 di Cancer Prevention Research, sebuah journal dari American Association for Cancer Research, mengatakan bahwa, dalam beberapa contoh, selenium mungkin memegang sebuah peranan dalam pencegahan kanker kantung kemih.

Para peneliti menganalisa data dari 875 kasus kanker kantung kemih dan 1.191 populasi umum sebagai kontrol.

Meski mereka tidak menemukan hubungan antara level selenium di dalam kuku jari dengan kanker kantung kemih, namun para peneliti mengamati adanya kemungkinan bahwa dalam molekul phenotype tertentu dari tumor dan sub kelompok tertentu dari populasi (misalnya wanita dan perokok), selenium mungkin memainkan beberapa bentuk peranan dalam pencegahan.

Osteoarthitis (OA)

Pada American College of Rheumatology Annual Scientific Meeting, tahun 2005, Joanne Jordan, MD, seorang rheumatologist di University of North Carolina, Chapel Hill, mempresentasikan sebuah studi yang dia lakukan mengenai munculnya osteoarthritis (OA) dan level selenium di kuku jari.

Dr. Jordan dan rekan-rekannya mengukur jumlah selenium di kuku jari dari 940 orang. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang punya level selenium terendah lebih mungkin untuk mengembangkan osteoarthritis.

Selain itu, ‘‘semakin rendah level selenium, semakin tinggi tingkat keparahan OA.’’

Barret's Esophagus

Dalam sebuah studi di Fred Hutchinson Cancer Research Center and the University of Washington dan dipublikasikan tahun 2003 di JNCI Journal of the National Cancer Institute, para peneliti mencoba untuk menentukan apakah level selenium yang lebih tinggi itu mungkin bisa menghambat perkembangan kondisi pra-kanker dari kondisi yang dikenal sebagai Barrett’s esophagus menjadi kanker esophageal.

Meski hanya lima sampai sepuluh persen dari orang dengan Barrett’s esophagus yang benar-benar mengembangkan kanker esophageal, tapi mereka memang sudah punya sebuah perkiraan yang suram. Lebih dari 90 persen meninggal dalam lima tahun.

Selama studi, sejarah medis, test darah, dan jaringan esophageal diambil dari 399 pasien arrett’s esophagus. Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang memiliki level selenium terendah di dalam darah punya resiko tertinggi untuk mengembangkan kanker esophageal.

Bahkan, mereka punya dua sampai tiga kali peningkatan resiko untuk mengembangkan perubahan-perubahan yang mengarah pada kanker esophageal dibanding mereka yang memiliki level selenium menengah atau tinggi.

Preeclampsia

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2003 di American Journal of Obstetrics and Gynecology, para peneliti di University of Surrey, Inggris, mencoba untuk menentukan apakah ada hubungan antara level selenium yang rendah dengan preeclampsia, sebuah kondisi serius yang mungkin terjadi selama masa kehamilan.

Preeclampsia dicirikan dengan tekanan darah tinggi dan protein di dalam urine. Gejala-gejala lain termasuk bengkak, berat badan bertambah secara mendadak, perubahan penglihatan, dan pusing-pusing.

Para peneliti mengambil sampel kuku dari 53 pasien preeclmaptic dan 53 orang hamil yang cocok sebagai kelompok kontrol. Setelah dianalisa, para peneliti menemukan ‘‘konsentrasi selenium rata-rata pada subjek preeclamptic secara signifikan lebih rendah dibanding kelompok kontrol.’’

Selain itu, ‘‘dalam kelompok preeclamptic, status selenium yang lebih rendah itu secara signifikan berhubungan . . .  dengan tingkat keparahan dari penyakit, saat dibandingkan dengan hasil pengukuran yang dilakukan 32 minggu sebelumnya.’’

Kekuatan Otot

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2007 di American Journal of Clinical Nutrition, para peneliti menyelidiki hubungan antara level plasma selenium yang rendah dengan kekuatan otot dari 891 pria dan wanita yang berusia 65 tahun ke atas.

Mereka menemukan bahwa para manula yang memiliki level selenium terendah di dalam darah itu sekitar 95 persen lebih besar kemungkinannya untuk mengalami gangguan pada lutut dan kekuatan genggaman dibanding mereka yang punya level selenium tertinggi.

Haruskah kacang Brazil disertakan ke dalam diet? Tentu saja, untuk sebagian besar orang yang tidak allergi terhadap kacang Brazil.

Namun, semakin tinggi jumlah asupan mungkin akan menyebabkan keracunan selenium, dengan gejala-gejala misalnya mual, muntah, skin lesion dan kuku yang tidak normal.

Pria dan wanita yang berusia 19 tahun ke atas seharusnya tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 400 microgram per hari. Karena kacang Brazil rata-rata mengandung antara 70 sampai 90 microgram selenium, sebagian besar orang seharusnya memakan empat kacang Brazil per hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Blueberry

James Joseph, PhD, seorang peneliti nutrisi di Human Nutrition Research Center on Aging at Tufts University, memulai harinya dengan meminum segelas jus delima dan semangkuk blueberry.

Menurut sebuah artikel yang di publikasikan pada tahun 2008 di Psychology Today, setelah bertahun-tahun mempelajari blueberry, atau yang dikenal sebagai vaccinium, Dr. Joseph merasa yakin bahwa blueberry mampu membantu otak dan tubuh dalam memerangi berbagai gangguan yang berhubungan dengan penuaan.

Meski blueberry mengandung nutrisi tradisional, misalnya karbohidrat, serat, vitamin C dan E, manganese, tapi buah ini juga mengandung anthocyanidins (dark flavonoid phytochemicals), yang memerangi stress oksidatif dan peradangan.

‘‘Secara kumulatif, buah-buahan berrie memproduksi efek-efek antioxidant, menetralisir kerusakan cell-cell yang diakibatkan oleh radikal bebas dari oksigen, dan memblokir jalur yang digunakan oleh oksidatif stress untuk merusak cell-cell. Mungkin, yang lebih penting lagi, buah-buahan berrie berfungsi sebagai agen anti peradangan untuk menjaga jantung juga integritas otak.’’

Dalam sebuah interview di tahun 2004 yang dilakukan dengan Seattle Post-Intelligencer, Dr. Joseph mengatakan bahwa neuron-neuron tua di alam otak itu seperti pasangan yang telah menikah untuk waktu yang lama -- mereka tidak lagi berkomunikasi.

Dan blueberry mengubah dinamika tersebut. Mereka membuat neuron-neuron bisa kembali berhubungan. ‘‘Blueberry punya senyawa yang menguatkan sinyal-sinyal neuron dan membantu menyalakan sistem-sitem di otak yang bisa mengarah pada penggunaan protein lain untuk membantu daya ingat atau skill-skill kognitif lainnya.’’

Dalam penelitiannya pada tikus, Dr. Joseph telah menemukan bahwa tikus yang memakan blueberry punya kasus penyakit Alzheimer yang lebih sedikit dan contoh-contoh yang lebih rendah mengenai radang sendi yang berhubungan dengan peradangan.

Dia dan rekan-rekannya juga merasa yakin bahwa blueberry mungkin bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang menjalani terapi radiasi. Blueberry mengurangi efek-efek pada skill-skill kognitif dan gerak serta mungkin ‘‘bisa mengeliminasi rasa mual akibat radiasi. ’’

Tikus-tikus yang diberi diet yang mengandung dua persen ekstrak blueberry sebelum menjalani terapi radiasi memang jauh lebih baik dibanding tikus-tikus yang tidak diberi blueberry sebelum diberi perawatan dengan radiasi.

‘‘Radiasi menyebabkan penurunan dalam tingkah laku dan sinyal-sinyal pada tikus yang bisa diperbaiki oleh sebuah diet antioxidant.’’ Kemungkinan, ‘‘polyphenols di dalam buah-buahan ini beraksi diberbagai bagian otak.’’

Dr. Joseph bahkan telah mengamati bahwa blueberry cenderung bekerja lebih baik saat dimakan dengan makanan-makanan tinggi lemak tertentu, misalnya walnut, yang mengandung  polyphenols dan omega-3 fatty acids.

Bersama-sama, blueberry dan walnut membuat selaput cell-cell syaraf jadi lebih responsif. Sebagai hasilnya, ‘‘efektivitas dari semua transaksi’’ jadi meningkat.

Selain itu, kombinasi dari blueberry dan walnut, ‘‘mungkin membantu memblokir peradangan pada level cell-cell, sebuah proses yang terlibat di dalam penyakit jantung, penyakit Alzheimer dan proses-proses penurunan akibat penuaan.’’

Kesehatan Jantung

Sebuah studi yang dipimpin oleh Wilhelmina Kalt, bersama dengan para peneliti dari Agriculture and Agri-Food Canada, yang dipublikasikan tahun 2008 di ritish Journal of Nutrition, melaporkan bahwa babi percobaan yang diberi makan diet 2 persen blueberry mengalami penurunan dalam kolesterol total, LDL dan HDL.

Dua persen diet itu sama dengan dua mangkuk blueberry pada diet manusia. Mengapa hasil penelitian ini penting?

Sebab babi dan manusia punya level LDL yang mirip. Keduanya juga cenderung untuk terkena penyakit pembuluh darah yang berhubungan dengan diet dan plak-plak atherosclerotic di dalam arteri dan aorta.

Selain itu, denyut jantung dan tekanan darah babi juga mirip dengan denyut jantung dan tekanan darah manusia.

Sebuah artikel yang dipublikasikan tahun 2008 di Grocer menyatakan bahwa sebagai hasil dari penelitiannya, Dr. Kalt menganjurkan orang-orang untuk memakan setidaknya empat ons blueberry setiap hari.

Kanker

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di Journal of Agricultural and Food Chemistry, Navindra Seeram, PhD, asisten direktur dari UCLA Center for Human Nutrition dan asisten profesor di David Geffen School of Medicine at UCLA, melaporkan bahwa ekstrak dari buah-buah berrie. misalnya blueberry, yang banyak mengandung antioxidant, menghambat perkembangan dari cell-cell kanker mulut, prostate, payudara dan usus.

Dr. Seeram dan rekan-rekannya juga menyatakan bahwa semakin tinggi jumlah berrie, semakin banyak jumlah cell kanker yang terhambat. ‘‘Dengan meningkatkan konsentrasi dari ekstrak blueberry, akan meningkatkan penghambatan dari perkembang biakan cell di semua jalur cell yang diamati, dengan berbagai tingkat potensi antara jalur-jalur cell.’’

Studi lain, yang dipublikasikan tahun 2007 di Clinical Cancer Research, menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Rutgers University and the U.S. Department of Agriculture (USDA) mengenai hubungan antara pterostilbene, sebuah antioxidant yang secara natural terdapat di blueberry, dengan kanker usus.

Selama penelitian, tikus-tikus diberikan suatu senyawa yang memicu kanker usus. Setengah dari tikus ditempatkan pada diet seimbang; setengah lagi diberikan diet yang sama, tapi ditambahkan dengan pterostilbene.

Pada akhir minggu ke delapan, saat dibandingkan dengan kelompok kontrol, tikus-tikus yang mengkonsumsi pterostilbene tambahan memiliki pre-cancerous colonic lesions 57 persen lebih sedikit.

Para peneliti menyimpulkan bahwa ‘‘studi ini menyiratkan bahwa pterostilbene, yaitu suatu senyawa yang terdapat di dalam blueberry, adalah hal yang sangat menarik untuk pencegahan kanker.’’

Agnes Rimando, PhD, salah seorang peneliti dari Natural Products Utilization Research di Mississippi, sebuah divisi dari USDA Agriculture Research Service, telah menemukan hasil yang serupa.

Dalam penelitiannya, Dr. Rimando memang mencatat bahwa pterostilbene mungkin merusak kemampuan dari enzim-enzim yang mengaktifkan zat-zat kanker. Sehingga mungkin akan membatalkan proses dari cell-cell yang tadinya akan berubah menjadi cell-cell kanker.

Anti Aging dan Kebugaran Secara Umum

Sudah diyakini bahwa ada hubungan yang kuat antara stress oksidatif dengan penyakit-penyakit kronis dan penuaan. Selain itu, antioxidant di dalam blueberry itu sudah diketahui bisa memerangi stress oksidatif tersebut.

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2007 di Journal of the American College of Nutrition menemukan bahwa memakan blueberry dan makanan-makanan antioxidant lainnya itu bukan cuma penting bagi manusia. Tapi waktu memakannya juga menentukan.

Untuk mengurangi stress oksidatif sepanjang hari, para peneliti menganjurkan untuk memakan blueberry atau makanan antioxidant lain pada waktu memakan makanan utama.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2006 di Neurobiology of Aging, membahas fakta bahwa saat manusia menua, heat shock protein di dalam otak, yang, sama seperti antioxidant, yaitu mensupport fungsi-fungsi otak yang sehat, jadi menurun. Bisakah memakan blueberry menghambat proses penurunan ini?

Selama sepuluh minggu, para peneliti memberi diet yang diperkaya dengan blueberry kepada tikus-tikus tua dan muda, lalu membandingkannya dengan tikus kelompok kontrol yang berusia tua, yang memakan diet tanpa blueberry.

Seperti yang diharapkan, setelah sepuluh minggu otak-otak dari tikus muda ditemukan banyak mengandung heat shock protein, dan otak dari tikus-tikus tua yang tidak memakan blueberry punya heat shock protein yang rendah.

Namun, heat shock protein dari tikus-tikus tua yang memakan blueberry tidak sepenuhnya kembali seperti semula. Para peneliti menyimpulkan bahwa blueberry mungkin berperan penting dalam melindungi proses-proses neurodegenerative yang seringkali berhubungan dengan penuaan.

Para tahun 2005, sebuah artikel di Nutrition Today menyimpulkan berbagai alasan untuk menyertakan blueberry ke dalam diet. ‘‘Blueberry telah semakin banyak diakui karena rasa, gizi dan manfaatnya bagi kesehatan. Produksi dan konsumsi blueberry di Amerika telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Blueberry bukan cuma dirangking memiliki aktivitas antioxidant tertinggi saat dibandingkan dengan buah dan sayuran lain, tapi juga menjadi salah satu sumber terkaya untuk anthocyanins.’’

Dan, ada bukti yang sangat kuat bahwa konsumsi dari anthocyanins mengurangi resiko dari penyakit jantung, kanker, dan berbagai gangguan yang berhubungan dengan penuaan.

Nah, masih meragukan keampuahan blueberry?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makanan Sehat - Kacang Hitam

Mahal, adalah salah satu alasan yang terkadang diberikan orang atas kegagalan mereka untuk memakan sebuah diet yang sehat.

Orang-orang ini memegang kepercayaan bahwa untuk memakan makanan yang lebih baik itu terlalu besar biayanya, terutama dalam masa-masa ekonomi yang sulit seperti sekarang ini.

Tapi itu tidak selalu benar. Misalnya, kacang hitam itu sering dipuji sebagai sebuah contoh yang luar biasa dari suatu makanan murah yang bergizi.

Kacang hitam dipercaya dapat bermanfaat untuk menurunkan level kolesterol, dan banyak mengandung serat untuk mencegah agar gula darah tidak melonjak drastis setelah makan. Itu membuat kacang hitam jadi makanan yang diinginkan oleh penderita diabetes.

Kacang hitam juga dianggap sebagai sumber yang bagus untuk mineral molybdenum, yang digunakan untuk mendetoksifikasi sulfida. Kacang hitam dianggap sebagai sumber dari serat, folate, tryptophan, manganese, protein, magnesium, vitamin B1, fosfor, dan zat besi.

Kacang hitam, yang juga dikenal sebagai Phaselus vulgaris, itu populer di berbagai negara termasuk Brazil, Mexico, Cuba, Guatemala, dan Republik Dominika. Mereka banyak dikonsumsi diberbagai negara, termasuk di Amerika.

Tapi apa kata para peneliti?

Kesehatan Secara Umum

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2003 di Journal of Agricultural and Food Chemistry, para peneliti dari Michigan State University menguji aktivitas antioxidant dari 12 jenis kacang kering.

Antioxidant menghancurkan radikal bebas, yang sudah sejak lama dihubungkan dengan berbagai penyakit yang berhubungan dengan penuaan, misalnya penyakit jantung dan kanker.

Dan ternyata, kacang hitam memiliki jumlah antioxidant tertinggi. Lalu diikuti oleh kacang merah, coklat, kuning dan putih. Kacang-kacang yang berwarna gelap cenderung untuk memiliki antioxidant lebih banyak dibanding kacang yang berwarna lebih terang.

Salah satu kelompok dari antioxidant, yang dikenal sebagai anthocyanins, adalah jenis antioxidant yang paling aktif di dalam kacang hitam.

Bahkan, dalam suatu penemuan awal, para peneliti merasa yakin bahwa jumlah anthocyanins per 100 gram (g) sajian dari kacang hitam itu sama dengan sekitar sepuluh kali lipat dari jumlah antioxidant yang ada di dalam 100 gram jeruk, cranberrie, jeruk bali dan apel.

Para peneliti mempelajari semua jenis kacang kering; saat dimasak, kacang-kacang ini kehilangan beberapa dari anthocyanins ini. Tapi tetap, para peneliti menganggap bahwa kacang yang sudah dimasak itu mungkn masih mengandung anthocyanins dalam jumlah yang cukup banyak.

Hasil dari sebuah studi yang serupa, dilakukan di North Dakota State University, yang dipublikasikan tahun 2007 di Journal of Food Science. Kacang hitam, juga lentil, black soybean, red kidney bean, dan pinto bean, ternyata punya lebih banyak antioxidant dibanding kacang polong kuning dan hijau, buncis dan kacang kedele kuning.

Selain itu, ekstrak dari kacang hitam (juga lentil, black soybean, dan red kidney bean) membantu memperlambat jumlah waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kolesterol LDL (jahat). Itu berarti, kacang hitam berpotensi untuk mencegah berkembangnya atherosclerosis.

Pencegahan Kanker

Dalam sebuah studi di Brazil yang dipublikasikan tahun 2003 di Food and Chemical Toxicology, para peneliti mencoba untuk mengevaluasi efek perlindungan yang mungkin dimiliki oleh kacang hitam masak dan kering terhadap sumsum tulang dan cell-cell disekitar darah pada tikus percobaan.

Saat para peneliti memberi makan tikus sebuah diet yang 20 persen nya terdiri dari kacang hitam, mereka menemukan bahwa tikus-tikus itu mengalami suatu pengurangan dalam cell-cell kanker awal. Hal ini bahkan terlihat pada tikus yang diberikan suatu agen untuk memicu pertumbuhan cell-cell kanker.

Berharap untuk mengetahui komponen dari kacang yang telah memberikan perlindungan ini, para peneliti menguji anthocyanin. Namun, saat diberikan pada dosis tertinggi (50 mg per kilogram berat tubuh), anthocyanin menyebabkan kerusakan DNA.

Hal itu membuat para peneliti menyimpulkan bahwa interaksi dari kombinasi dari semua elemen yang menciptakan kacang hitam itu lebih baik dibanding komponen individu dari kacang tersebut.

Dalam suatu studi yang dipublikasikan pada Juli 2006 di The Journal of Nutrition, para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Elaine Lanza, ketua dari Colon Cancer Prevention Group at the National Cancer Institute, menyelidiki lebih dari 2 ribu pria dan wanita yang berusia 35 tahun dan di diagnosa menderita precancerous polyps selama enam bulan sebelum studi dimulai.

Selama empat tahun masa penelitian, para subjek ditanya mengenai diet mereka. Banyak yang mencoba mengubah diet untuk mencegah pertumbuhan polyps. Mereka yang menambahkan kacang paling banyak ke dalam dietnya, termasuk kacang hitam, mengalami pengurangan resiko yang signifikan dari terulangnya pengembangan polyps.

Kesehatan Jantung

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2006 di Archives of Internal Medicine, mengamati hubungan antara asupan protein dengan hasil pembacaan tekanan darah. Studi ini menyertakan 4.680 orang yang berusia antara 40 sampai 59 tahun dari China, Jepang, Inggris dan Amerika.

Tidak ada hubungan signifikan yang ditemukan antara asupan protein hewani dengan tekanan darah, atau total asupan protein dengan tekanan darah. Namun, para peneliti menemukan sebuah hubungan yang siginifikan antara konsumsi protein nabati, misalnya kacang hitam, dengan tekanan darah.

Untuk setiap peningkatan 2,8 persen dalam asupan protein nabati -- sekitar 3 - 4 mangkuk kacang bagi seseorang yang mengkonsumsi diet 2.000 kalori -- ada penurunan rata-rata sebanyak 2,14 mililiter dalam tekanan systolic dan 1.55 mm dalam tekanan diastolic.

Pengontrolan Berat Badan

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2009 di The Journal of Nutrition, para peneliti dari Brigham Young University College of Health and Human Performance di Provo, Utah, mengamati bagaimana asupan serat, misalnya yang ditemukan dalam kacang hitam, bisa mempengaruhi pengontrolan penambahan berat badan pada wanita.

252 wanita menyelsaikan penaksiran dasar dan follow-up selama 20 bulan. Para peneliti menemukan bahwa, ‘‘peningkatan asupan serat secara signifikan mengurangi resiko dari penambahan berat badan dan lemak pada wanita, tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain termasuk aktivitas fisik, asupan lemak dan lain-lain.’’

Mengapa serat bisa memiliki pengaruh yang begitu kuat? ‘‘Pengaruh serat tampaknya akan terjadi terutama melalui pengurangan jumlah energi yang dikonsumsi seiring waktu.’’

Pencegahan Diabetes

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2009 di Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, para peneliti dari Keck School of Medicine di University of Southern California, Los Angeles, mencoba untuk menentukan apakah pengurangan jumlah asupan gula dan peningkatan jumlah asupan serat, misalnya yang ditemukan dalam kacang hitam, bisa membantu mencegah berkembangnya diabetes type 2 pada remaja Latin yang seringkali overweight dan sangat beresiko untuk diabetes.

Para peneliti membagi 54 remaja yang overweight (rata-rata berusia 15,5 tahun) ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama punya satu kelas nutrisi per minggu; kelompok kedua punya satu kelas nutrisi per minggu dan dua sesi  strength training per minggu; kelompok ketiga berfungsi sebagai kelompok kontrol.

Pada akhir minggu ke 16, para peneliti mengamati bahwa 55 persen dari remaja tersebut punya pengurangan asupan gula mereka rata-rata sebanyak 47 g per hari, jumlah yang sama yang terdapat pada sekaleng soda.

59 persen dari remaja punya peningkatan dalam asupan serat mereka rata-rata sebanyak 5 g per hari, atau sama dengan satu setengah mangkuk kacang.

Remaja yang mengurangi asupan gula mereka rata-rata mengalami penurunan sebanyak 33 persen dalam pengeluaran insulin; mereka yang meningkatkan jumlah asupan serat punya 10 persen pengurangan dalam volume visceral adipose tissue. Kedua faktor ini mengurangi resiko dari diabetes type 2.

Para peneliti mencatat bahwa remaja yang melakukan perubahan yang relatif ringan ini dalam diet mereka, ‘‘menunjukkan perbaikan dalam faktor-faktor resiko dari diabetes type 2, terutama dalam pengeluaran insulin dan lemak visceral.’’

Peringatan!

Kacang kering dan kalengan itu sama-sama bergizi. Namun, dalam beberapa contoh, kacang hitam kalengan mungkin mengandung garam paling banyak. Setiap kali memungkinkan, kacang kalengan sebaiknya dihindari. Untuk mengurangi kadar garam dalam kacang kalengan, bilaslah dengan air matang.

Nah, apakah kacang hitam harus disertakan ke dalam diet?

Tentu. Tapi, lakukan secara bertahap. Sebab terlalu banyak memakan kacang hitam dalam waktu yang terlalu singkat mungkin akan mengakibatkan gangguan pada usus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS